Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Televisi VS Anak

Anak dan televisi adalah perpaduan yang sangat kuat. Sebagaimana dijelaskan oleh Milton Chen dalam bukunya: ‘Anak Dalam Televisi’, tak banyak hal lain dalam kancah kemajuan jaman ini yang dapat menandingi pesona televisi untuk menyentuh dan mempengaruhi  cara pikir kaum anak.

Tak heran jika akhir-akhir ini protes seputar tayangan di layar kaca kembali terdengar. Pencetusnya ‘Smack Down’ yang membawa korban jiwa. Namun sesungguhnya, bila kita cermati, tayangan yang mengandung kekerasan bukan cuma ini. Perlu dicatat, diluar unsur kekerasan, tayangan TV juga mengandung unsure-unsur kurang mendidik lainnya. Sikap kasar, dengki dan arogan yang dimainkan tokoh-tokoh remaja dalam sejumlah sinetron stereotip yang tidak pada tempatnya. Sebenarnya stereotip dan tidak pada tempatnya. Sebenarnya stereotip merupakan salah satu cara anak belajar. Anak kecil biasa belajar dengan mengelompokkan dan melekatkan label. Namun TV mempunyai kekuatan amat besar untuk menciptakan dan melestarikan stereotip rasial, seksual, atau sifat tertentu. Solusinya tentu saja bukan dengan membuang pesawat TV. Bila dipergunakan secara bijak, TV bisa memainkan peran positif dalam pengasuhan anak. TV bisa menjadi ‘home-centered learning’.

2 Sisi mata uang

Televisi sebagaimana segala sesuatu di dunia ini selalu hadir dengan dua sisi yang melekat jadi satu. Di satu sisi bisa demikian menyita waktu anak. Anak lebih banyak meluangkan waktu untuk menonton televisi daripada kegiatan lain apapun kecuali tidur. Otomatis waktu yang dilewatkan di depan layar kaca berarti waktu yang tidak dimanfaatkan untuk bermain, membaca, menggambar ataupun melakukan aktifitas rumah tangga sehari-hari.

Di sisi lain, TV bisa berperan sebagai media aktif di rumah dan membantu si anak menemukan bakat-bakat dirinya. Acara TV bisa menjadi bagian dari “lingkungan belajar”. Memang untuk mewujudkan ini, diperlukan peran aktif orangtua, mengamati dari dekat apa yang sesungguhnya bisa dilakukan dan perlu bereksperimen untuk melihat mana yang cocok untuk keluarga masing-masing.

Isi Pesan

Televisi begitu sering dituding sebagai perusak anak-anak karena memang hanya televisilah yang merupakan medium anak-anak. TV bisa menggenggam para bocah yang tidak bisa dilakukan koran atau radio. Televisi bisa menjadi kawan atau lawan tergantung isi pesannya jadi bila kita benar-benar mau melindungi anak-anak dari dampak negatif, langkah yang harus diambil adalah mencermati tayangan

Langkah yang Lebih Baik

Kebanyakan kegiatan menonton TV cenderung tidak terencana. Kapan ada waktu luang, kita otomatis menyalakan TV. Seharusnya menonton televisi dijadikan kegiatan sadar. Menghidupkan pesawat televisi sebagai suatu pilihan, bukan satu-satunya pilihan. Terapkan kebiasaan baru dimana anak-anak perlu minta ijin untuk menonton televisi, seperti halnya mereka minta ijin main ke taman. Dan saat mereka minta ijin, tanyakan acara apa yang akan mereka tonton. Dan tanyakan pada diri sendiri, adakah kegiatan lain yang lebih bermakna sebagai gantinya? Luangkan waktu untuk setidaknya mengetahui sekilas tayangan tersebut. Bila memungkinkan, jadikan menonton televisi bersama seluruh keluarga sebagai sarana memperkuat ikatan keluarga dan kesempatan untuk saling berbagi.

Sebagaimana menyusun menu makanan untuk keluarga, andapun dapat menyusun menu acara TV. Buatlah selembar kalender mingguan berisikan nama masing-masing anggota keluarga dengan hari dan jam serta tayangan yang masing-masing inginkan. Untuk kontrol anda bisa menjumlahkan seluruh waktu yang akan dihabiskan seseorang di hadapan TV banyak ahli menyarankan tidak lebih dari 2 jam sehari untuk anak balita. Selektiflah terhadap pilihan tayangan. Memang tidak semuanya harus yang berbobot dan edukatif, yang menghiburpun bisa masuk nominasi selama proporsional.

Setelah menonton, secara ringkas diskusikan apa yang mereka ingat, manfaat yang didapat, informasi ekstra apa yang perlu dicari di buku. Mungkin juga ada percobaan-percobaan sains atau program kreatifitas yang bisa ditiru dan dijalankan. TV bisa menjadi jendela untuk memandang sains dan art sebagai kegiatan yang menggali rasa ingin tahu, penuh kejutan memukau dan bukan sekadar menghafal fakta. Dengan demikian televisi akan menjadi sahabat yang bermanfaat.

Referensi :

Majalah Toddler Vol. 5/2006


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: