Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Selebritis Cilik: Ekplorasi atau Ekploitasi Anak?

Banyak tayangan program televisi yang menampilkan anak sebagai tokoh utama dalam programnya, seperti acara talent show, musik, dan yang paling banyak adalah program drama, sinetron tepatnya. Dalam tayangan tersebut si anak dituntut untuk bisa berakting sebaik mungkin dan mengerahkan seluruh potensi yang mereka miliki hingga sehingga menghasilkan tayangan program yang menarik. Sebenarnya ini cukup  menarik karena melalui akting atau aksi yang dikerjakan anak tersebut secara tidak langsung belajar mengasah bakat serta merangsang kreatifitas dalam  diri mereka. Frekuensi aktifitas akting yang tinggi juga dengan sendirinya membentuk mereka menjadi pribadi yang terlatih dan profesional.

Satu hal yang menimbulkan pertanyaan adalah bagaimana dengan aktifitas mereka sehari-hari? Aktifitas yang dimaksud tentunya adalah aktifitas anak pada umumnya, yakni aktifitas belajar dan bermain. Bila melihat dari jadwal syuting yang padat, terlebih lagi bila anak tersebut terlibat dalam sinetron yang kejar tayang (stripping), adakah kesempatan bagi mereka untuk melakukan aktifitas “anak” yang merupakan hak mereka sebagaimana diperoleh anak-anak lain yang sebaya dengan mereka? Bisakah mereka mengembangkan bakat mereka yang lain diluar dari bakat akting mereka?

Ekplorasi bakat itulah yang sering dijadikan sebagai latar belakang. Apakah yang dimaksud sesungguhnya dengan ekplorasi bakat itu? Apakah perbedaanya dengan eksploitasi bakat? Mari kita telusuri…

Fenomena ini sebenarnya bagaikan sebuah misteri, tentunya kita tidak pernah tahu persis apa yang dirasakan anak-anak tersebut. Seringkali semuanya tampak biasa, bahkan ketika para wartawan infotainment mencoba melontarkan pertanyaan yang berkenaan dengan hal ini kebanyakan dari mereka sendiri mengakui dan menyatakan bahwa mereka sangat menikmati status dan aktifitas mereka sebagai selebritis cilik. Mereka tidak pernah merasa keberatan atau tertekan meskipun waktu mereka tersita untuk aktifitas “ke-selebritisan” mereka. Semoga memang demikian realitanya.

Ditinjau dari sisi psikologi keberadaan anak-anak sebagai selebritis cilik sebenarnya kurang berdampak baik bagi perkembangan diri anak. Bagaimanapun Komunitas dan aktifitas dimana anak berada akan berpengaruh pada diri anak, baik dalam pola pikir maupun tindakan atau perilaku. Akan lebih baik bila kehidupan anak bisa berjalan normal dengan segala aktifitasnya sebagaimana wajarnya. Bukan berarti anak tidak boleh berkecimpung dalam dunia akting, tapi seharusnya ada batasan-batasan yang tetap dijaga sehingga kehidupan anak dapat tetap berjalan normal. Dengan berakting mungkin kita dapat meng-eksplorasi bakat anak, memberikan kesempatan pada mereka untuk mengekspresikan juga mengembangkan bakat mereka. Tapi bila terlalu berlebihan dilakukan hal itu malah sama saja dengan mengambil hak mereka bahkan meng-eksploitasi bakat mereka. Sebenarnya bukan soal hak yang menjadi permasalahn utama disini, yang lebih utama adalah dampak, bagaimana produk yang dihasilkan dari lingkungan dan aktifitas seperti itu. Belum lama ini terjadi satu peristiwa yang cukup memprihatinkan dimana seorang artis belia tiba-tiba memasukkan video tentang dirinya yang disebarluaskan melalui internet. Dalam video itu dia mencurahkan segala kekesalannya secara histeris tentang teman-temannya ketika ia masih dibangku SMP. Keadaan ini sungguh menyedihkan karena artis ini dikenal sebagai artis yang alim, manis bahkan saleh. Keberadaannya sebagai artis telah dikenal sejak ia masih kecil ketika ia membintangi sebuah sinetron anak. Bahkan hingga saat ini ia terus dikenal sebagai artis berbakat dan membintangi cukup banyak sinetron. Dikatakan dalam berita tersebut bahwa kejadian itu terjadi karena artis tersebut sedang mengalami sakit dan belum bisa menerima kenyataan, benarkah seperti itu? Lalu mengapa ia seakan marah terhadap teman-temannya dibangku SMP? Sungguh membingungkan. Tapi kita tidak akan menelusuri penyebab itu. karena kita pun tidak pernah tahu alasan apa yang sebenarnya menyebabkan ia melakukan tindakan itu, hanya ia dan Tuhan yang mengetahuinya, betul.

Terlepas dari semua anggapan dan reaksi, sekali lagi suatu perkara yang sulit untuk bisa disimpulkan begitu saja atas kisah kehidupan dari para “selebritis cilik”. Tentunya banyak faktor dibelakangnya yang melatarbelakangi keberadaannya. Satu hal yang harus tetap diingat adalah bagaimanapun keadaan yang ada, janganlah lupa bahwa anak adalah titipan Tuhan yang bukan saja harus diasah bakatnya tapi juga harus dibentuk ahklaknya (karakter) sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik dan berguna dengan sebenar-benarnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: