Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Plus Minus Sekolah Dini

Menyekolahkan anak sejak dini dipandang sebagian besar orang tua bermanfaat untuk memberikan rangsangan bagi perkembangan maksimum segala aspek dan potensi.disamping juga membantu bersosialisasi. Benarkah?

Pendidikan Untuk Batita

Usia dini (0-5thn) merupakan usia yang sangat menentukan, bahkan disebut sebagai golden age dalam pembentukkan karakter dan kepribadian seorang anak. Di usia ini kemampuan anak untuk menyerap informasi juga sangat tinggi.

Meski para ahli percaya, proses belajar sudah berlangsung sejak bayi masih dalam kandungan. Namun, bukan berarti pembenaran untuk memasukkan bayi-bayi ke sekolah. Berlangsungnya proses belajar, tak selamanya harus dalam institusi tertentu. Menurut Ericson, tokoh psikologi ternama, usia 1-2 tahun anak berada dalam tahapan krisi antara akan mempercayai lingkungan atau tidak (trust vs mistrust). Pada masa ini, yang amat dibutuhkan anak sesungguhnya adalah keyakinan bahwa dirinya mendapat dukungan dari dunia sekitar. Anak dapat bertumbuh optimal bila mempercayai lingkungannya sehingga secara emosional yang sangat dibutuhkan adalah kedekatan dengan ibu. Selain itu, rentang konsentrasi anak masih amat terbatas. Perhatiannnya masih mudah berpindah dari objek ke objek yang menyebabkan proses belajar di kelas justru tidak optimal.

Sementara psikolog Elizabeth Hurlock menegaskan, anak belum perlu menerima tokoh guru sepenuhnya ataupun mengikuti aturan main dan norma-norma lingkungan. Sekadar merangsang dan mengoptimalkan potensi tidak ada salahnya, namun jika mereka dipaksa berpisah dengan ibu atau diberikan materi yang tidak sesuai dengan perkembangan kognisi mereka, justru dapat menjadi tertekan dan menghambat.

Bermain = Sekolah

Sebenarnya bagi batita bermain sudah merupakan sekolah. Bermain merupakan pengalaman langsung yang efektif dilakukan anak usia dini dengan dan tanpa alat permainan, (Olson, Bruner, Heinich et al: 1996). Bagi anak, ini merupakan kesempatan yang menyenangkan, dengan spontan bereksplorasi, menemukan sendiri hal-hal yang sangat membanggakan. Dengan bermain anak juga mengembangkan berbagai aspek diri seperti emosi, fisik dan intelektualnya (Dockett: 1960).

Mengikutsertakan anak dalam program stimulasi yang sesuai dapat menjadi masukan bagi ibu-ibu yang bingung atau belum memahami bagaimana melakukan stimulasi optimal. Atau menjadi bantuan bagi ibu bekerja. Namun perlu diingat, proses belajar terjadi setiap detik setiap waktu. Porsi terbesar tetap dirumah.

Perlukah Pre-School?

Di ngara lain pendidikan anak usia dini memperoleh perhatian dari pemerintah. Singapura dan Korea Selatan misalnya, hamper seluruh anak-anak usia dini telah mendapatkan pendidikan. Human Development Indeks (HDI) atau tingkat pengembangan sumber daya manusia kedua Ngara itu jauh di atas Indonesia. Singapura peringkat ke-25, Korea Selatan ke-27, sedangkan Indonesia hanya berada di peringkat 110 dari 173 negara.

Berkait dengan hal tersebut diatas, dalam 5 tahun belakangan ini, banyak dijumpai pre-school terutama kota-kota besar. Di sini, para pendidik menyadari keberadaan pre-school, bukan hanya mengoptimalkan perkembangan kognisi dan motorik serta mendorong sosialisasi, tetapi juga mempersiapkan anak masuk TK, lebih mandiri, mampu beradaptasi dengan peraturan serta tokoh otoriter diluar orang tua. Mengimbangi tuntutan di SD yang terus meningkat menyebabkan beban di TK juga semakin berat sehingga anak butuh persiapan lebih matang untuk masuk TK.

Ahli-ahli pendidikan dan perkembangan anak percaya adanya masa peka untuk belajar. Seekor burung jatuh bangun belajar terbang begitu merasa sayapnya cukup kuat. Jika pada saat itu, anda merasa kasihan sekecil itu sudah harus bersusah payah terbang, dan mengurung si burung dalam sangkar, si burung justru menjadi tidak mampu terbang selamanya. Dia sudah kehilangan kemampuan terbangnya.

Demikian pula dengan anak manusia. Ada masa peka untuk mempelajari segala hal, berjalan misalnya, adalah antara usia 8 sampai dengan 15 bulan. Pada masa ini, tanpa diajari sekalipun sebagian besar anak dengan sendirinya tiba-tiba bisa jalan. Periode sensitif untuk belajar sosialisasi adalah 6 bulan hingga 8 tahun, berbagi usia 2 s/d 3,5 tahun, musik sejak dalam kandungan sampai 3,5 tahun, bicara 1 s/d 4 tahun, bahasa 1 s/d 8 tahun, dan disiplin 1 s/d 5 tahun.

Biasanya bersamaan dengan masa peka, minat anak juga meningkat dengan sendirinya sehingga proses belajar semakin mudah. Bila pada saat minatnya tinggi tidak mendapat tanggapan, minat itu akan menurun. Setelah minatnya berkurang, mengajak anak belajar jadi lebih sulit.

Namun perlu dipertimbangkan, walau mengikuti pola yang sama, kematangan tiap anak berbeda. Demikian pula masa peka belajar ataupun pasang surutnya minat. Ada yang belum mau sekolah, padahal anak lain seusianya bahkan lebih muda sudah dengan kehendak sendiri pergi sekolah.

Jangan karena ikut-ikutan keluarga lain, anda memaksa si kecil menerjuni kegiatan yang sama. Luangkan waktu untuk menganalisa kebutuhan si kecil, dan luangkan waktu untuk mengamati apa yang disediakan oleh sekolah-sekolah yang ada. Apakah programnya sesuai dengan kondisi putra dan putri anda? Apakah si kecil berbahagia mengikuti kegiatan atau justru tampak tertekan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: