Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Perkembangan Otak dan Pola Pembelajaran Otak Seutuhnya (Whole-Brain Thinking)

Perkembangan Otak Anak

Otak adalah organ yang paling canggih dalam tubuh manusia. Otak tidak statis, tetapi dinamis, senantiasa tumbuh dan berkembang setiap saat menyesuaikan dengan stimulasi lingkungan.

Otak terdiri dari batang otak (brain stem), otak kecil (cerebellum) dan dua belahan (hemisfer) otak besar (cerebrum).

Otak manusia lebih unggul dari otak mahluk lain dalam kemampuan untuk belajar, bekerja dan berbahasa. Otak memungkinkan manusia mengenali dan memahami lingkungan dan berinteraksi dengan lingkungan tersebut.

Pembelajaran akademik adalah bagian dari lingkungan dan merupakan salah satu fungsinya – sebuah fungsi yang tidak terisolasi dari fungsi-fungsi lain. Walaupun otak terdiri dari berbagai bagian, tetapi secara essential merupakan fungsi yang utuh dan potensi akademik bergantung kepada keseluruhan fungsi tersebut. Saling ketergantungan bagian-bagian otak ini memberi sebuah peluang bagi otak untuk dapat bekerja lebih efisien, saling berinteraksi lebih luas dan memiliki kapasitas adaptasi yang lebih baik.

Otak manusia mengalami dua macam perkembangan:

  1. Filogenetik

Perkembangan dari kelompok sel, ikan, amfibi, reptile dan mamalia

  1. Ontogenetik

Perkembangan dari janin, bayi, dana anak. Pada perkembangan ontogenetic terjadi “brain growth spurt” (laju cepat perkembangan otak) mulai usia janin 4 bulan sampai lahir umur 2 tahun.

Ciri-ciri kecanggihan otak adalah tumbuh dengan laju kecepatan yang tinggi saat bayi, kemampuan plastisitas yang tinggi, kemampuan tinggi untuk beradaptasi terhadap lingkungan dan adanya perkembangan ontogenetic dengan proses laterisasi yang menciptakan spesialisasi hemisfer yang khas otak manusia.

Perkembangan otak akhirnya mencapai tahap puncak dengan terciptanya dua belahan otak, kanan dan kiri, yang mempunyai kemampuan berbeda tetapi bekerjasama secara harmonis, selaras, dan saling berkomunikasi. Ini merupakan hasil akhir adanya dua kemampuan dalam diri manusia yaitu berakal dan berahklak – manusia yang cerdas dan berbudi luhur sekaligus.

Dengan memahami proses perkembangan otak, orangtua dan guru dapat memberikan rangsangan yang sesuai dengan kebutuhan otak anak. Memahami dinamika otak, mereka dapat menggunakan momentum yang terbaik untuk merangsang potensi otak.

Pembelajaran Otak Seutuhnya (Whole-Brain Thinking)

Otak terdiri dari dua belahan/ hemister yang mempunyai kemampuan yang berbeda sekali, bahkan saling bertentangan. Belahan otak sisi kiri berfungsi sebagai pusat baca-hitung-tulis dan mempunyai pola pikir yang logis-analitis, sedangkan belahan otak kanan mempunyai fungsi yang lebih luas, lebih vital dan menjadi landasan dasar dalam kehidupan individu. Belahan kanan ini menjadi pusat pemantauan dan perlindungan diri terhadap lingkungan, sosialisasi, spiritualisme, pusat kesenian dan emosi, pusat visualisasi, imajinasi dan kreativitas, dan berpola piker holistic dan intuitif. Kedua belah otak ini bekerja secara integrative, harmonis dan komplementer. Inilah yang disebut sebagai whole-brain thinking (pola pikir seutuhnya).

Otak kanan merupakan wadah kemampuan dasar (fluid intelligence) untuk mengimplementasikan kecerdasan dan kepandaian yang diperoleh dari belahan otak kiri (crystallized intelellegence). Metode pembelajaran harus mempertimbangkan stimulasi belahan kanan sebagai dasar dan baru kemudian belahan kiri. Agar kedua belahan bekerja secara integrative dan komplementer, perlu pula stimulasi untuk “korpus kalosum” yang menjadi jembatan penghubung kedua belahan itu.

Untuk mencapai tahap puncak otak prima, anak harus belajar dari lingkungan. Orangtua dan guru harus paham materi dan metode memberikan stimulasi pada anak. Karena anak dituntut untuk nantinya dapat berpikir secara seutuhya, maka stimulasi lingkungan  yang diperlukan tentu harus seutuhnya pula.

Sebaiknya dipergunakan juga metode “whole-brain learning” karena metode ini akan menghasilkan pola pikir yang “whole-brain thinking”. Metode ini terbukti sangat adaptif dan plastis serta dapat mengadakan perubahan structural dan fungsional apabila diberikan stimulasi lingkungan. Stimulasi lingkungan yang berupa stimuli sensoris diterima oleh anak sebagai sebuah pengalaman dan respons tindakan sensorimotor.

Stimulasi neutral ini pada hakikatnya adalah proses belajar mengajar atau pembelajaran neural. Dan proses ini merupakan kunci keberrhasilan dalam pendidikan untuk pengembangan sumber daya anak.

Pada akhirnya pembelajaran otak anak yang terprogram kearah konsep “The Dual Brain”, dapat menghasilkan pembelajaran yang mencapai hasil akhir otak seutuhnya. Otak yang mendayagunakan kemampuan belahan otak kiri (left brain, sebagai crystallized intelengence) dan otak kanan (right brain, sebagai fluid intelligence).

Referensi:

Sidiarto, Lily Djokosetio (2007) Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar Pada Anak. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: