Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Mengembangkan “Life Skill” Pada Anak

Ada anak yang bernasib baik karena dibekali orang tuanya dengan pengasuhan positif, yang memungkinkannya memiliki sejumlah keterampilan yang dibutuhkan dalam mengahadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan. Sebaliknya,anak yang tidak beruntung, mendapatkan pola asuhan yang keliru. Mereka tidak memiliki keterampilan untuk mengatasi permasalahan hidup sehingga seringkali gagal, walaupun sudah berusaha keras.

Istilah keterampilan hidup tidak hanya terbatas pada aspek sosial maupun yang dicakup dalam konsep emotional intellegence. Keterampilan hidup adalah gabungan keterampilan untuk mengatasi empat bidang masalah kehidupan:

  1. Sekolah

Merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk memahami bahan pelajaran dan kemampuan akademis. Pada dasarnya mencakup keterampilan untuk berpikir, dan menerapkan hasil berpikir yang meliputi keterampilan untuk membaca, menulis, berhitung, pengetahuan umum serta berpikir kritis, logis, analitis dan aplikatif.

  1. Pergaulan

Meliputi keterampilan yang diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain. Bagaimana bertindak asertif, antara lain mengekspresikan keinginan, berani minta bantuan (tanpa merendahkan derajat), berani menolak permintaan, bisa memberikan pujian, teguran maupun saran dan mampu memperjuangkan hak. Selain asertif juga mampu mengenali emosi orang lain, emosi pribadi serta menyelesaikan pertikaian melalui negosiasi.

  1. Karir dan pekerjaan

Merupakan gabungan dari keterampilan dibidang sekolah dan pergaulan yang disebabkan oleh sifat pekerjaan. Dalam pekerjaan seseorang diharapkan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan formal sekaligus handal bergaul. Disamping itu, dalam lingkungan pekerjaan, seseorang juga diharapkan mau dan mampu bekerja sama sekaligus bersaing dengan rekan kerja. Uniknya, dalam melakukan persaingan harus menunjukkan ia mampu bekerjasama, karena hanya orang-orang yang mampu bekerjasama yang akan memenangkan persaingan.

  1. Ke-diri-an

Meskipun merupakan mahluk sosial, ada kalanya manusia harus berhadapan dengan dirinya sendiri. Seringkali manusia seakan-akan berrtarung dengan dirinya sendiri. Ada ‘bagian’ dirinya yang menginginkan hal tertentu, sedangkan bagian dari lainnya justru menginginkan hal bertentangan. Adanya berbagai situasi yang mengandung konflik, mengharuskan manusia memiliki prioritas sebagai pegangan dalam membuat keputusan. Untuk itu seseorang perlu mengenal konsekuensi dari pilihan. Selain kemampuan membuat keputusan, manusia juga diharapkan mampu mengendalikan perasaan khususnya yang kalau diungkapkan tidak pada tempatnya dapat merugikan. Harus menahan rasa marah dan kecewa, tetapi juga mampu menyalurkan kemarahan atau kekecewaan dengan cara yang dapat diterima lingkungan.

Mempersiapkan anak untuk menguasai keterampilan hidup, tidak boleh melupakan kenyataan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Juga harus diingat bahwa tiap keterampilan hanya dapat dicapai lewat cara khusus yang berbeda dengan cara untuk mencapai keterampilan lainnya.

Ada keterampilan yang dapat diajarkan, misalnya pengetahuan umum. Dalam hal ini anak cukup diberitahu dan akan bisa memahami. Ada keterampilan yang harus dibiasakan (dengan sanksi dan hadiah) bahkan dipaksakan (‘paksaan’ bersifat konsisten dan diikuti oleh ‘hadiah’). Ada juga keterampilan yang perlu dilatih sendiri. Lewat usaha peniruan (anak sendiri harus sering mengulang). Beberapa keterampilan hanya mungkin dicapai melalui kerja keras orang yang bersangkutan. Kemampuan menahan diri (misalnya) tidak bisa hanya diajarkan caranya. Ada keterampilan yang berkembang karena dipupuk secara tepat. Pada dasarnya manusia memiliki banyak potensi yang akhirnya tidak terwujud karena tidak mendapatkan pupuk yang tepat. Contohnya potensi anak untuk menjadi pribadi yang berinisiatif. Potensi ini tidak bisa berkembang karena pada saat yang kritis untuk perkembangannya, anak justru sering dihukum kalau menampilkan inisiatif.

Karena setiap keterampilan harus dicapai melalui cara tersendiri, maka dengan sendirinya diperlukan berbagai kegiatan untuk membantu anak menguasai keterampilan ini. Sebagian besar cara itu terkait dengan pola pengasuhan anak diwaktu kecil.

Fakta membuktikan:

  • Beberapa keterampilan hanya berkembang optimal pada “masa peka”. Untuk ini orang tua perlu lebih awas terhadap tahapan perkembangan anak.
  • Beberapa keterampilan bisa dicapai dengan adanya tekad yang didukung usaha gigih. Untuk itu dibiasakan anak mencoba hal yang sulit.
  • Ada keterampilan yang hanya dapa dicapai setelah tercapainya keterampilan lain.

Referensi:

  1. Majalah Toddler Vol. 8/ 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: