Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Industri Pertelevisian dan Fungsi Edukatif Terhadap Anak

Ketika berbicara televisi sebagai sebuah industri tentunya terdapat suatu tujuan ekonomi dibelakangnya. Hal ini merupakan sebuah realita dimana sebuah stasiun televisi harus dapat mencapai target pendapatan yang ditetapkan demi menjaga eksistensinya dikancah penyiaran. Target pendapatan tersebut akan memungkinkan sebuah stasiun penyiaran dapat bertahan dan tetap beroperasi (mengudara). Untuk dapat menghasilkan sebuah program sebagai produk yang akan disajikan kepada pemirsa, dalam prosesnya tentu membutuhkan dana yang memadai. Sebuah program yang hanya berdurasi 5 menit saja bisa jadi menguras kocek hingga berjuta-juta. Sebenarnya tidak mengherankan karena proses produksi yang dilaluinya melibatkan bukan saja banyak orang (baik yang depan maupun dibelakang kamera), tapi juga perlengkapan (baik peralatan studio maupun peralatan diluar studio) bahkan jasa satelit untuk mentransmisikan program tersebut hingga bisa diterima dipesawat televisi pemirsanya. Bagi sebuah media penyiaran program merupakan sebuah produk yang akan dijual; produk yang akan dikonsumsi oleh khalayak. Lalu pertanyaannya dari manakah media penyiaran memperoleh pendapatannya, kemana mereka menjual program tersebut? Secara sederhana pendapatan suatu media penyiaran diperoleh dari penjualan program pada pemasang iklan. Dengan demikian media penyiaran dituntut untuk dapat menghasilkan suatu program yang dapat menarik sebanyak mungkin pemasang iklan; suatu program yang dapat membuat para pemasang iklan merasa diuntungkan bila mereka memasang iklan pada program tersebut. Karena pemasang iklan hanya akan tertarik bila program yang dibeli memiliki banyak audien sehingga berpeluang untuk mendapatkan konsumen produktif, yakni calon pembeli dari produk yang diiklankan. Jadi program yang dianggap berhasil adalah program yang dapat menarik hati sebanyak mungkin audien dan mengundang pemasang iklan untuk beriklan pada program.

Berdasarkan latar belakang tersebut, muncul sebuah fenomena dalam dunia penyiaran di Indonesia yang menunjukkan banyaknya program televisi yang lebih didominasi oleh program hiburan daripada program bersifat edukatif. Memang program hiburan lebih disukai orang karena dapat memberikan perasaan rileks, nyaman dan menyenangkan bagi mereka, dan faktanya jenis program inilah yang paling banyak menarik pemasang iklan. Satu hal yang sangat disayangkan dari program hiburan di Indonesia adalah demi untuk menarik sebanyak mungkin khalayak, seringkali program hiburan tampil dengan kemasan yang terlalu berlebihan dan kurang mempertimbangkan sisi etika dan moral. Banyak tayangan yang bila ditilik dari sudut etika penyiaran pun sebenarnya tidak dibenarkan, seperti  candaan yang berbau kekerasan terselubung, yakni mendorong orang, menempeleng, dsb; penggunaan bahasa yang kasar, sikap meremehkan dan menjatuhkan harga diri orang dengan celaan-celaan, dan masih banyak lagi. Bagaimana jika program tersebut disaksikan oleh anak? Apa dampaknya?

Secara komersial tidak dapat dipungkiri bahwa anak bukanlah audien potensial yang dapat menghasilkan keuntungan bagi industri penyiaran televisi melalui para pemasang iklan. Bahkan secara finansial pun mereka masih bergantung dan ditanggung oleh orangtua. Menanggapi keadaan ini, yang diperlukan sebenarnya hanya satu hal, yakni sebuah kesadaran. Kesadaran untuk mengolah suatu isi pesan dari sebuah program dengan lebih bijaksana, seimbang serta bermanfaat bagi semua kalangan, terutama kalangan anak yang sampai saat ini masih kurang diperhatikan. Sebenarnya ada beberapa stasiun swasta nasional yang berusaha tetap concern pada kebutuhan dari audien kalangan anak ini dengan menayangkan sinetron anak. Tapi sekali lagi, sangat disayangkan cerita yang ditayangkan tetaplah tidak sesuai untuk anak, kembali lagi pemilihan kata yang digunakan, sikap anak yang ditampilkan, bahkan tema yang disajikan seringkali bertentangan dengan nilai moral anak yang diajarkan disekolah. Anak menggunakan ungkapan kasar, anak menjadi semakin pandai berkilah dan mengikuti semua tindakan yang mereka saksikan dari cerita tersebut. Lain lagi dengan sebuah program musik yang ditayangkan oleh stasiun swasta nasional lain yang melibatkan anak dalam program musik dewasa. Sejujurnya tayangan ini juga masih kurang pantas karena musik yang disajikan ditujukan untuk orang dewasa yang berbau romansa dan percintaan.

Memang cukup rumit dan dilematis realita yang terjadi dalam industri penyiaran ketika berhadapan dengan fungsinya sebagai sarana edukatif. Sebagai sebuah Industri penyiaran televisi harus tetap berjuang mencapai tujuannya. Pada akhirnya kiranya dengan hati nurani   setiap kita dapat sehingga semuanya dapat tetap berdiri pada peranan yang seharusnya. Anak adalah calon generasi penerus bangsa, sudah sepantasnya mereka mendapatkan yang terbaik sebagai bekal mereka dimasa depan. Bisa jadi 20 tahun mendatang merekalah nantinya yang akan melanjutkan dan berkecimpung dalam industri penyiaran televisi, dapatkah mereka menjadi lebih produkti, kreatif dan berkualitas dibandingkan dengan generasi saat ini? Industri televisi memiliki peran dan andil didalamnya untuk melahirkan anak-anak bangsa yang tidak hanya cerdas dan sukses, tapi juga berkarakter. Semoga industri penyiaran televisi khususnya di Indonesia dapat mewujudkannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: