Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Desain Pembelajaran dan Perkembangannya

Untuk mencapai hasil yang maksimal dan efektif dalam kegiatan belajar, setiap pengajar harus dapat menemukan dan menerapkan suatu desain pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. Ini merupakan dasar bagi setiap pengajar ketika merencanakan suatu kegiatan mengajar. Desain pembelajaran yang tepat harus mencakup beberapa hal, mulai dari penentuan penggunaan alat penunjang kegiatan belajar (media), hingga metode dan kurikulum belajar. Desain pembelajaran hendaknya mengandung suatu visi dan misi sebagai sebuah acuan dalam setiap kegiatan belajar sehingga prosesnya selalu terarah dan  memiliki tujuan yang sama.

Desain Pembelajaran

Apakah yang dimaksud dengan desain pembelajaran? Desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas. Hasil dari pembelajaran ini dapat diamati secara langsung dan dapat diukur secara ilmiah atau benar-benar tersembunyi dan hanya berupa asumsi.

Sebagai suatu disiplin, desain pembelajaran secara historis dan tradisional berakar pada psikologi kognitif dan perilaku. Namun istilah ini sering dihubungkan dengan istilah yang berbeda dalam bidang lain, misalnya dengan istilah desain grafis. Walaupun desain grafis (dari perspektif kognitif) dapat memainkan peran penting dalam desain pembelajaran, namun keduanya adalah konsep yang terpisah.

Banyak dasar dari bidang desain pembelajaran yang diletakan saat Perang Dunia II, saat militer Amerika Serikat merasakan adanya kebutuhan untuk melatih dengan cepat sejumlah besar orang untuk melakukan tugas teknis yang rumit dalam bidang kemiliteran. Berdasarkan penelitian dan teori dari B.F. Skinner tentang operant conditioning, program pelatihan difokuskan pada perilaku yang tampak. Tugas-tugas dibagi menjadi bagian-bagian, dan setiap bagian tugas diperlakukan sebagai tujuan belajar terpisah. Pelatihan dirancang untuk memberikan ganjaran bagi tampilan yang benar dan melakukan remedial bagi tamilan yang salah. Diasumsikan bahwa semua siswa akan bisa memperoleh penguasaan kemampuan bila diberi kesempatan untuk melakukan pengulangan yang cukup dan umpan balik yang memadai. Setelah perang usai, keberhasilan model pelatihan saat perang diulang kembali dalam pelatihan bisnis dan industri, dalam jumlah yang lebih kecil di ruang kelas primer dan sekunder.[1]

Di tahun 1955, Benjamin S. Bloom mempublikasikan taksonomi yang ia sebut sebagai tiga kawasan tujuan belajar: Kognitif (apa yang kita tahu atau pikirkan), Afektif (yang kita rasakan, atau sikap yang kita miliki), dan Psikomotor (apa yang kita lakukan). Taksonomi ini masih berpengaruh terhadap desain pembelajaran.[2]

Dalam pertengahan kedua di abad ke-20, teori belajar mulai dipengaruhi oleh perkembangan komputer digital. Dalam tahun 1970an, banyak pembuat teori mulai mengadopsi pendekatan “pemrosesan informasi” dalam desain pembelajaran. David Merrill misalnya mengembangkan Component Display Theory (CDT). Teori tersebut berkonsentrasi pada cara mempresentasikan materi pembelajaran (teknik presentasi)[3].

Kemudian di tahun 1980an sampai 1990an, teori muatan kognitif mulai menemukan dukungan empiris untuk beragam teknik presentasi[4].

Desain Pembelajaran Modern

Seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih, desain pembelajaran mengalami banyak perubahan dan kemajuan. Perubahan itu antara lain mencakup dua hal, antara lain:

  1. Metode belajar di kelas, yakni:
  • Sistem pengajaran dua arah:

Posisi Pengajar tidak lagi dominan menguasai kegiatan belajar dikelas. Para peserta didik dapat memberikan dan membagikan pandangan mereka sehingga suasana kelas bersifat aktif. Dengan demikian sumber informasi/ ilmu tidak lagi hanya berasal dari Pengajar tapi juga dari para peserta didik.

  • Kurikulum Belajar

Banyak kurikulum dibeberapa sekolah, khususnya sekolah dengan standar “Nasional Plus” yang mengkombinasi kurikulum nasional dengan kurikulum luar negeri sehingga menghasilkan kualitas peserta didik yang setara dengan lulusan luar negeri.

  1. Penggunaan Teknologi Komunikasi (Media)
  • LCD

Sebagai alat visualisasi dikelas, sehingga memudahkan baik pengajar maupun peserta didik dalam memahami materi pelajaran.

  • Internet

Sebagai sumber informasi khususnya dalam tugas tertentu yang membutuhkan banyak pencarian data.

Referensi

  1. Wikipedia
  2. http://www.bfskinner.org/Documents.asp
  3. Taksonomi Bloom
  4. TIP: Theories

Lawrence Erlbaum Associates, Inc. – Educational Psychologist – 38(1):1 – Citation


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: