Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Ciptakan Kecintaan Belajar

Meminta anak menunjukkan kemampuan atau kebolehannya dihadapan kerabat dan handai taulan biasa dilakukan para orang tua. Sah-sah saja bila para orang tua membanggakan kebolehan anak-anaknya. Selama hanya bertujuan ‘show and tell’. Tapi seringkali terjadi kerancuan antara pengertian intelligence dengan achievements (pencapaian). Sesungguhnya kita perlu membedakan antara penguasaan pengetahuan dengan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tersebut secara cerdas.

Para ahli umumnya sepakat pengertian intelligence sebagai kemampuan untuk belajar. Memproses apa yang terjadi di lingkungan sekitar, mengatasi situasi dan tantangan baru., serta berpikir secara abstrak. Penekanan yang berlebihan pada pengumpulan data atau pencapaian secara sempit, semisal dengan menghafal, tidak merangsang kecintaan anak untuk belajar dalam jangka panjang. Mari kita tinjau hal-hal yang dapat menimbulkan kecintaan balajar pada anak sampai seumur hidup.

Penekanan Pada Proses

Sesungguhnya anak-anak adalah pelajar yang aktif. Bayi selalu belajar untuk mengerti dan menguasai lingkungan. Balita seringkali memasukkan benda ke dalam mulut untuk mengenali sifat benda. Demikian pula melemparkan barang-barang yang merupakan eksperimen dengan gravitasi bumi dan kecepatan. ‘Jika aku melemparkan sendok ini apakah ia akan jatuh? Berapa cepat ia akan tiba di lantai?

Sesungguhnya secara alami seorang anak senang belajar. Namun seringkali cara penanganan yang salah justru mengeringkan rasa ingin tahu. Salah satunya adalah penekanan berlebihan terhadap hasil, sehingga orang tua dan para pengajar seringkali terlalu kritis terhadap anak. Misalnya di tingkat pra-sekolah ditunjukkan melalui ujian membaca dan berhitung.

Begitupun dalam hal membaca. Kurikulum sekolah yang bertumpu pada pengulangan (drilling & worksheets) nama dan bunyi huruf tidak menimbulkan minat baca pada anak. Proses pembelajaran yang sesungguhnya terdiri dari pengalaman literasi yang bermanfaat seperti menulis, membaca, berbicara dan mendengar. Orang tua yang sering membacakan buku bagi anaknya, menyediakan waktu untuk berdiskusi mengenai isi bacaan, memberikan beragam pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, menuai hasil lebih baik dalam minat baca dan belajar anaknya.

Lebih jauh lagi, penekanan belajar yang berlebihan justru menciptakan anak-anak yang tidak dapat berpikir ‘outside the box’. Kebalikan dari yang ingin kita capai yaitu anak yang kreatif dan intelejen.

Ciptakan Pengalaman Belajar yang Menyenangkan

Dalam kurikulum pengajaran pra-sekolah dan Taman Kanak-kanak yang berorientasi pada pencapaian, jatah waktu yang seharusnya dipergunakan untuk permainan kreatif dan pengenalan diri, ditiadakan dan diganti dengan pelajaran akademis. Tidak mengherankan jika para murid mengasosiasikan belajar dengan kerja keras dan perasaan was-was akan kegagalan. Jika anak pada usia dini sudah merasa gagal ia tidak akan menyukai sekolah dan bahkan menderita dan stress. Rasa percaya dirinya pun pupus.

Sebagai contoh, dalam belajar baca. Basis elemen penting adalah kosakata (vocabulary), kemampuan bercerita (story telling), kesadaran bahwa kata terdiri dari bunyi-bunyi independent (Phonological awareness), dan kemampuan memisahkan dan menyatukan huruf menjadi bunyi yang dapat dimengerti (deciphering the written code). Walaupun setiap elemen ini penting, perlu diingat bahwa mempercepat proses sebelum waktunya bukan hanya buang-buang waktu, namun juga berakibat buruk, yaitu hilangnya rasa kecintaan untuk membaca dan kemampuan berimajinasi dalam bercerita.

Motivasi dari Dalam

Yang membedakan orang berhasil dan kurang adalah motivasi. Biasanya setiap anak akan termotivasi oleh sesuatu dalam lingkungannya. Luangkanlah waktu untuk untuk mengenali minat dan gunakan minat tersebut sebagai landasan untuk membangun semangat dan hasrat belajarnya.

Salah satu contoh dapat  dilihat di sekolah Montesorri. Anak-anak yang diberi kebebasan memilih aktifitas terbukti memiliki daya konsentrasi yang lebih tinggi. Alasannya sangat sederhana, jika anak dapat memilih kegiatannya, tentu ia akan memilih yang disukai. Jika ia menyukai kegiatan tersebut, tentu akan melakukannya berulang-ulang. Dengan demikian rentang konsentrasinya pun meningkat. Sebelum anak memiliki rentang konsentrasi yang cukup, ia tidak dapat menerima pelajaran dengan baik.

Kembangkan Rasa Percaya Diri Anak

Orang tua dan pendidik dapat menjadi partner dalam mengembangkan rasa percaya diri anak dengan cara sebagai berikut:

  • Diskusikan perbedaan antara yang telah dilakukan anak dengan apa yang perlu dilakukan. Dengan demikian membuka wawasan anak akan alternative yang tersedia.
  • Bantulah anak menemukan benang merah antara apa yang sudah mereka ketahui dengan apa yang sedang mereka hadapi atau pelajari.
  • Beri dorongan untuk tetap bertahan menyelesaikan persoalan saat anak sudah frustasi menghadapinya. Bantulah dengan cara memecah belah persoalan menjadi bagian yang lebih kecil dan lebih mudah teratasi.

Dalam mempersiapkan anak menghadapi tantangan di abad ini, dalam era dimana informasi mudah didapat melalui internet, dimana komputer dapat menghitung dan melakukan operasi matematika jauh lebih cepat dari pada kita, maka seperti dikutip dari buku ‘Einstein Never Used Flash Cards”, pengarang Kathy Hirsh-Pasek, Ph.D. dan Roberta M. Golinkoff, Ph.D. mengatakan: “… but no computer can ever replicate the creativity the human brain uses to solve problems. So as parents and teachers in the 21 century, we have to have a broader view of intelligence, a view that focuses on supporting our children’s talents; allows them to be creative, independent thinkers; and feed s their curiosity. If our view of intelligence focuses on test scores and ingesting tons of information, we have lost the vitality that makes for real human intelligence.” Segalanya tetaplah kembali pada manusia sebagai individunya. Bagaimana si anak akan bertumbuh menjadi insan yang terus mengembangkan dirinya.

Referensi:

Majalah Toddler Vol 6/ 2007


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: