Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

“Aku Benci Bahasa Inggris”, Sebuah Kisah Pembelajaran

Satu waktu saya pernah membaca sebuah buku cerita anak, ceritanya pendek dan sangat sederhana, tapi setelah saya membaca cerita itu saya mendapatkan satu inspirasi dan motivasi besar mengenai konsep belajar. Inilah ceritanya:

Suatu hari seorang kakek berdarah tiongkhoa bercerita pada cucunya, kakek itu berkata, ”Jaman dahulu didataran cina, kala ada seorang anak yang benar-benar benci pada pelajaran bahasa Inggris…”, lalu cucunya bertanya,”mengapa kek?”, si kakek meneruskan ceritanya, ”anak itu membenci pelajaran Bahasa Inggris karena dia selalu mendapat nilai jelek pada pelajaran itu, bahkan ketika dia sudah berusaha untuk belajar tetap saja dia mendapatkan nilai jelek hingga ia menjadi frustasi. Suatu kali anak itu sedang berjalan pulang dari sekolahnya sambil merenung  mengapa ia begitu sulit belajar bahasa Inggris. Ketika tengah berjalan dalam lamunan, tiba-tiba seorang kakek yang sedang duduk-duduk memanggilnya. Anak itu pun segera menghampiri si kakek. Lalu kakek itu bertanya, ”ada apa gerangan nak wajahmu nampak murung dan sedih sekali?” lalu anak itu menjawab, “aku kesal kek karena aku selalu mendapat nilai jelek pada pelajaran Bahasa Inggris, dan karena guruku selalu memarahiku, aku benci pelajaran itu!”. Si kakek lalu menggumam, “Hmm…baik anak muda, maukah kau mendapat nilai bagus pada pelajaran itu?”, anak itu terlonjak kegirangan, ”katakan padaku kek bagaimana caranya?”. Si kakek menjawab, ”kau sungguh ingin mengetahuinya? Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk melakukan apa yang aku katakan, dan setelah selesai melakukannya kau harus kembali lagi padaku.” Anak itu mengangguk-angguk dengan penuh semangat, si kakek lalu melanjutkan ucapannya, ”caranya mudah, kau hanya harus mengambil tiga helai rambut harimau yang tinggal di gua dibelakang bukit itu, bagaimana? Setelah itu berikan rambut itu padaku.” Seketika anak itu menjadi lemas. Tapi ia akhirnya menyanggupi apa dikatakan si kakek. Keesokan harinya ia menghampiri gua dimana harimau yang dimaksud kakek tinggal. Ia membawa daging ditangannya sebagai umpan bagi si harimau. Dengan mengendap-endap anak itu mendekat, tiba-tiba harimau yang sedang tertidur ditempatnya itu terbangun mendengar langkah anak itu, anak itu pun lalu berlari dan melemparkan dagingnya pada si harimau, lalu harimau itu memakannya dan anak itu hanya memandanginnya dari jauh. Hari berikutnya anak itu kembali membawa daging dan menghampiri harimau, harimau itu kembali mengaum galak dan si anak kembali melemparkan dagingnya pada si harimau. Tapi kali ini ia tidak berlari jauh-jauh sehingga ia bisa melihat dari dekat ketika harimau itu sedang memakan daging. Demikian terjadi berhari-hari, hingga suatu hari lagi anak itu membawa daging dan harimau itu tidak lagi mengaum galak. Harimau itu hanya menghampiri anak itu dan bahkan ia memakan daging yang dibawa si anak langsung dari tangan si anak. Anak itu lalu mengelus-elus kepala si harimau dan kesempatan itu dia manfaatkan dengan mencabut tiga helai rambut si harimau. Setelah itu dia berlari kegirangan dan kembali datang mencari kakek yang pernah menyuruhnya mengambil bulu harimau. Anak itu berkata pada si kakek, ”kek lihat aku sudah mendapatkan bulu harimau yang kakek minta, jadi sekarang katakan bagaimana agar aku dapat memperoleh nilai tinggi pada pelajaran bahasa Inggris?”, kakek itu lalu menjawab, ”ceritakan padaku bagaimana kau bisa mendapatkannya?”, lalu anak itu menceritakan hari-hari yang ia lalui ketika ia berusaha mendekati si harimau. Lalu si kakek menjawab, ”sebagaimana kau berusaha untuk bisa mendekati harimau dan mencabut bulunya, begitu pula yang harus kau lakukan ketika kau sedang belajar. Kau harus berusaha mencintai pelajaran itu, mengenalnya dengan penuh cinta dan tekun mempelajarinya dari hari ke hari, sehingga dengan demikian kau akan menguasainya dan mendapatkan nilai yang baik.” Anak itu merenungkan kata-kata si kakek, dan akhirnya ia melakukan kembali apa yang dia katakan.

“Wah lucu sekali ya kek”, ujar sang cucu yang sedari tadi begitu serius mendengarkan cerita si kakek. Lalu si cucu kembali bertanya, “memang siapa anak yang dimaksud dalam cerita itu kek?”, kakek menjawab,” anak itu adalah kakek sendiri, ketika kakek masih kecil dulu…” mereka pun tertawa terbahak-bahak,” hahaha….”.

Cerita diatas memang lucu, tapi biarlah kita dapat memahami makna sesungguhnya dari sebuah proses belajar, yakni belajar dengan penuh cinta dan ketekunan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: