Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Musik Untuk Anak

Musik merupakan salah satu sarana untuk merangsang perkembangan kognitif. Banyak penelitian dan literatur ilmiah yang mengungkapkan hal ini. Dalam beberapa tahun terakhir inipun, para peneliti di beberapa negara seperti Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sepakat bahwa selain nutrisi yang seimbang, ternyata musik, terutama musik klasik, sangat baik diberikan kepada anak sejak usia dini.

¯ Musik dan Janin

Pada awal masa kehidupan, janin tidak mendengar musik secara langsung karena berada dalam kandungan ibu. Musik yang didengar ibunyalah yang merupakan salah satu stimulasi awal bagi janin. Dari beberapa penelitian ilmiah terungkap pada usia beberapa minggu, janin sudah mampu merasakan getaran suara. Musik yang didengar ibu mampu diterima sebagai getaran vibrasi. Pada kondisi ini, otak sudah mulai berfungsi walau masih dalam taraf sederhana. Jika musik yang didengar ibu bernuansa lembut, maka vibrasi suara yang dialami janin terkesan lembut dan otak akan menginterpretasikan kelembutan vibrasi tersebut.

Seorang peneliti, Rene Van deCarr, menemukan perbedaan yang cukup berarti antara perkembangan anak-anak yang pada saat janin diekpos terhadap musik dan literatur (dibacakan puisi dan kisah anak-anak) dibandingkan dengan yang tidak. Donald Shetler menemukan adanya dampak percepatan perkembangan bahasa dan ingatan pada anak-anak yang ketika masih janin sering mendengarkan musik.

Bagi ibu hamil, musik bisa membebaskan ibu dari stress akibat kehamilan. Stress yang tidak dikelola akan berdampak buruk bagi ibu yang bersangkutan, seperti menghambat sirkulasi rahim-plasenta-janin. Hambatan sirkulasi ini bisa menyebabkan Berkurangnya pasokan nutrisi dan oksigen pada janin yang dikandung ibu.

¯ Musik dan Balita

Sesungguhnya para ibu telah secara alami membuai anaknya dengan senandung yang cenderung memberi rasa aman dan nyaman bagi anak. Masa balita merupakan saat penting bagi anak untuk memperoleh keyakinan akan adanya lingkungan hidup yang aman. Pada saat anak mulai mampu mengangkat tubuh, merangkak, dan bergerak ritmis, senandung dan nyanyian ibu memberi rangsang positif. Anak berupaya memberi respon ke arah datangnya suara serta mencoba beradaptasi dengan ritme suara.

Mainan yang dapat berbunyi atau menghasilkan suara musik merupakan sarana stimulasi yang baik. Mainan-mainan ini menarik perhatian dan merangsang keingintahuan balita akan arah sumber bunyi, yang memungkinkan anak bergairah untuk aktif.

Sebaiknya rangsang musical diarahkan untuk mendukung koordinasi gerak tubuh. Pilihlah musik yang memiliki struktur dan irama sederhana tetapi relative konstan. Struktur sederhana musik dapat dibentuk dengan penyusunan lagu dalam batas lebih kurang 8 nada berurut (1 oktaf). Sedangkan irama musiknya sebaiknya pada rentang irama sedang, tidak terlalu cepat ataupun lambat.

¯ Usia Pra Sekolah

Masa ini merupakan persiapan anak belajar berinteraksi sosial dalam lingkungan kelompok sebayanya. Musik memberi rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak seperti ingatan, bahasa dan analisis. Dengan menikmati musik, gudang ingatan anak semakin lama semakin berkembang sehingga kemampuan ingat anak semakin besar. Anak dapat memperkaya kosa kata dari lagu. Semakin bertambah perbendaharaan kata, maka kemampuan menangkap informasi verbal dan mengkomunikasikannya jadi lebih baik. Selain itu, dengan mendengarkan lagu, anak belajar mengembangkan fungsi analisis.

¯ Usia Sekolah

Merupakan usia yang baik untuk belajar bermain musik. Suatu penelitian yang menelaah tingkat kepuasan anak dengan belajar musik mengemukakan bahwa ketika belajar musik, anak-anak lebih dipengaruhi kepuasan Aktivitas belajarnya daripada pada jenis musik yang dipelajarinya. Kepuasan anak dalam belajar musik ini mempengaruhi minat mereka terhadap musik. Mereka tidak hanya bersikap pasif mendengarkan, melainkan aktif berkreasi menciptakan musik-musik sederhana sesuai dengan kemampuan mereka. Belajar memainkan alat musik melibatkan aspek kognitif motorik. Belajar bermain musik juga merupakan salah satu cara untuk belajar berempati terhadap emosi seseorang.

Memasukkan anak ke kursus musik tidak selalu didasarkan pada keinginan membentuk anak menjadi musisi. Keikutsertaan dalam sebuah ensebel dapat membina kedisiplinan, kebersamaan, mendukung proses menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan toleran dalam menghadapi lingkungan.

Untuk mencapai keberhasilan memang diperlukan kerjasama antara anak, orang tua dan guru musik. Orang tua kadang kurang mewaspadai kondisi anak yang kelelahan dengan aktivitas lain atau tidak memiliki minat untuk belajar musik. Ini berakibat anak merasa kegiatan bermusik merupakan beban dan bukan kegiatan yang menyenangkan.

¯ Musik Klasik VS Non-klasik

Banyak orang berpendapat musik klasik memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan Kecerdasan, menumbuhkan kreativitas dan meningkatkan kemampuan keruangan seseorang. Pandangan-pandangan ini memicu industri musik untuk memproduksi musik klasik sebanyak-banyaknya. Apakah musik klasik benar memiliki manfaat demikian besar? Bagaimana dengan musik non-klasik?

Setiap musik memiliki potensi tertentu untuk mempengaruhi kondisi psikofisik seseorang, baik itu musik klasik atau musik barat maupun musik non-klasik atau musik timur. Secara umum, beberapa jenis musik klasik dianggap memiliki dampak yang relative universal oleh sebagian besar orang. Musik tersebut memiliki kesan relaks, santai, cenderung membuat detak nadi bersifat konstan, memberi dampak menenangkan, dan menurunkan stress. Penelitian terhadap musik klasik telah dilakukan cukup banyak sedangkan jumlah penelitian terhadap musik non-klasik masih sangat terbatas.

Musik klasik memang dapat dijadikan pedoman pengkayaan musik karena kekayaan elemen bunyi, harmoni serta komposisi yang dikandungnya. Tetapi musik non-klasik juga memiliki Kekuatan tersendiri bagi seseorang karena peran fungsi asosiatif dan latar belakang budaya. Penelitian akan besarnya manfaat musik klasik di negara barat memang banyak terbukti karena musik klasik juga dilatarbelakangi oleh budaya serta alam kehidupan barat. Mungkin saja di negara-negara timur justru musik-musik tradisional timur yang memiliki dampak lebih positif.

Habermeyer dalam bukunya Good Music Brighter Children mengemukakan bahwa musik, tanpa membatasi jenisnya, sangat penting untuk membantu anak dalam proses perkembangannya. Musik bukan satu-satunya media pendidikan yang bermanfaat bagi anak, tetapi musik memberikan support atau dukungan yang berarti atas proses perkembangan anak.

¯ Belajar Dengan Menggunakan Musik

Musik dapat membantu anak memaksimalkan hasil belajar, ada beberapa keuntungan penggunaaan musik dalam proses belajar yang dapat diambil, antara lain:

  1. membuat rileks dan Mengurangi stress, dimana stress sangat menghambat proses belajar
  2. mengurangi masalah disiplin
  3. merangsang kreativitas dan kemampuan berpikir
  4. membantu kreativitas dengan membawa otak pada gelombang tertentu
  5. merangsang minat baca, ketrampilan motorik dan perbendaharaan kata
  6. sangat efektif untuk proses belajar yang melibatkan pikiran bawah sadar

Ada beberapa cara menggunakan musik untuk membantu proses belajar:

  1. Musik sebagai pembukaan. Musik yang tepat bila digunakan pada waktu yang sesuai akan sangat membantu mempengaruhi mood dan atmosfir belajar
  2. musik sebagai pembatas waktu. Musik dapat digunakan untuk menetapkan waktu belajar.
  3. musik untuk memperbaiki dan meningkatkan mood.
  4. musik untuk membangkitkan semangat dan energi (musik bertempo tinggi)
  5. musik untuk relaksasi (musik bertempo lambat)
  6. musik untuk membantu dan mengarahkan visualisasi
  7. musik untuk membantu diskusi. Peran musik disini adalah untuk menciptakan atmosfir yang mendukung diskusi.
  8. musik untuk memperkuat tema (sesuai dengan tema yang diambil).
  9. musik untuk konser aktif
  10. musik untuk konser pasif
  11. musik untuk menemani kegiatan fisik untuk membantu sinkronisasi otak.
  12. musik sebagai penutup. Kalau ada musik pembuka, maka harus ada musik untuk penutup. Musik dimainkan saat materi telah selesai dipelajari.

Hal yang terpenting dalam proses belajar adalah usahakan agar anak berada dalam kondisi senang, gembira, dan rileks sebelum anak belajar.

Referensi:

1. Majalah Toddler Vol 8/ 2007

2. Majalah BPK PENABUR News Bandung Edisi Februari 2008

Advertisements
Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Perkembangan Otak dan Pola Pembelajaran Otak Seutuhnya (Whole-Brain Thinking)

Perkembangan Otak Anak

Otak adalah organ yang paling canggih dalam tubuh manusia. Otak tidak statis, tetapi dinamis, senantiasa tumbuh dan berkembang setiap saat menyesuaikan dengan stimulasi lingkungan.

Otak terdiri dari batang otak (brain stem), otak kecil (cerebellum) dan dua belahan (hemisfer) otak besar (cerebrum).

Otak manusia lebih unggul dari otak mahluk lain dalam kemampuan untuk belajar, bekerja dan berbahasa. Otak memungkinkan manusia mengenali dan memahami lingkungan dan berinteraksi dengan lingkungan tersebut.

Pembelajaran akademik adalah bagian dari lingkungan dan merupakan salah satu fungsinya – sebuah fungsi yang tidak terisolasi dari fungsi-fungsi lain. Walaupun otak terdiri dari berbagai bagian, tetapi secara essential merupakan fungsi yang utuh dan potensi akademik bergantung kepada keseluruhan fungsi tersebut. Saling ketergantungan bagian-bagian otak ini memberi sebuah peluang bagi otak untuk dapat bekerja lebih efisien, saling berinteraksi lebih luas dan memiliki kapasitas adaptasi yang lebih baik.

Otak manusia mengalami dua macam perkembangan:

  1. Filogenetik

Perkembangan dari kelompok sel, ikan, amfibi, reptile dan mamalia

  1. Ontogenetik

Perkembangan dari janin, bayi, dana anak. Pada perkembangan ontogenetic terjadi “brain growth spurt” (laju cepat perkembangan otak) mulai usia janin 4 bulan sampai lahir umur 2 tahun.

Ciri-ciri kecanggihan otak adalah tumbuh dengan laju kecepatan yang tinggi saat bayi, kemampuan plastisitas yang tinggi, kemampuan tinggi untuk beradaptasi terhadap lingkungan dan adanya perkembangan ontogenetic dengan proses laterisasi yang menciptakan spesialisasi hemisfer yang khas otak manusia.

Perkembangan otak akhirnya mencapai tahap puncak dengan terciptanya dua belahan otak, kanan dan kiri, yang mempunyai kemampuan berbeda tetapi bekerjasama secara harmonis, selaras, dan saling berkomunikasi. Ini merupakan hasil akhir adanya dua kemampuan dalam diri manusia yaitu berakal dan berahklak – manusia yang cerdas dan berbudi luhur sekaligus.

Dengan memahami proses perkembangan otak, orangtua dan guru dapat memberikan rangsangan yang sesuai dengan kebutuhan otak anak. Memahami dinamika otak, mereka dapat menggunakan momentum yang terbaik untuk merangsang potensi otak.

Pembelajaran Otak Seutuhnya (Whole-Brain Thinking)

Otak terdiri dari dua belahan/ hemister yang mempunyai kemampuan yang berbeda sekali, bahkan saling bertentangan. Belahan otak sisi kiri berfungsi sebagai pusat baca-hitung-tulis dan mempunyai pola pikir yang logis-analitis, sedangkan belahan otak kanan mempunyai fungsi yang lebih luas, lebih vital dan menjadi landasan dasar dalam kehidupan individu. Belahan kanan ini menjadi pusat pemantauan dan perlindungan diri terhadap lingkungan, sosialisasi, spiritualisme, pusat kesenian dan emosi, pusat visualisasi, imajinasi dan kreativitas, dan berpola piker holistic dan intuitif. Kedua belah otak ini bekerja secara integrative, harmonis dan komplementer. Inilah yang disebut sebagai whole-brain thinking (pola pikir seutuhnya).

Otak kanan merupakan wadah kemampuan dasar (fluid intelligence) untuk mengimplementasikan kecerdasan dan kepandaian yang diperoleh dari belahan otak kiri (crystallized intelellegence). Metode pembelajaran harus mempertimbangkan stimulasi belahan kanan sebagai dasar dan baru kemudian belahan kiri. Agar kedua belahan bekerja secara integrative dan komplementer, perlu pula stimulasi untuk “korpus kalosum” yang menjadi jembatan penghubung kedua belahan itu.

Untuk mencapai tahap puncak otak prima, anak harus belajar dari lingkungan. Orangtua dan guru harus paham materi dan metode memberikan stimulasi pada anak. Karena anak dituntut untuk nantinya dapat berpikir secara seutuhya, maka stimulasi lingkungan  yang diperlukan tentu harus seutuhnya pula.

Sebaiknya dipergunakan juga metode “whole-brain learning” karena metode ini akan menghasilkan pola pikir yang “whole-brain thinking”. Metode ini terbukti sangat adaptif dan plastis serta dapat mengadakan perubahan structural dan fungsional apabila diberikan stimulasi lingkungan. Stimulasi lingkungan yang berupa stimuli sensoris diterima oleh anak sebagai sebuah pengalaman dan respons tindakan sensorimotor.

Stimulasi neutral ini pada hakikatnya adalah proses belajar mengajar atau pembelajaran neural. Dan proses ini merupakan kunci keberrhasilan dalam pendidikan untuk pengembangan sumber daya anak.

Pada akhirnya pembelajaran otak anak yang terprogram kearah konsep “The Dual Brain”, dapat menghasilkan pembelajaran yang mencapai hasil akhir otak seutuhnya. Otak yang mendayagunakan kemampuan belahan otak kiri (left brain, sebagai crystallized intelengence) dan otak kanan (right brain, sebagai fluid intelligence).

Referensi:

Sidiarto, Lily Djokosetio (2007) Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar Pada Anak. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Mengenal dan Mengembangkan Kecerdasan Multidimensi (Multiple Intelligence)

Semua anak pandai. Seringkali orang tidak percaya kata-kata itu, apalagi bila melihat hasil prestasi akademik anak yang tertulis dalam rapor didominasi angka merah, hasil skor tes IQ menunjukan angka yang mengecewakan. Selama ini kita terbiasa menilai kepandaian atau Kecerdasan anak berdasarkan nilai-nilai akademis. Padahal sebenarnya bila anak pandai bicara atau jago main basket, atau luwes memainkan piano, atau pintar bergaul, atau terampil menghasilkan gambar yang bagus, anak layak disebut cerdas. Kalaupun anak belum memiliki kemampuan dibidang yang disebutkan diatas, bukan berarti anak tidak cerdas. Yakini bahwa jauh tersembunyi didalam diri anak terdapat Kecerdasan yang sedang menunggu untuk dibebaskan dan diwujudkan.

Bermula dari gagasan Howard Gardner tentang multiple Intellegence (Kecerdasan majemuk), gagasan ini mengantarkan cara baru memandang Kecerdasan sebagai sesuatu yang tidak pasti dan tidak statis. pada perkembangannya, para ahli dan peneliti psikologi merasa bahwa menilai Kecerdasan seharusnya lebih fleksibel dan lebih mempertimbangkan fenomena-fenomena lain secara tidak kaku seperti yang selama ini dilakukan. Kecerdasan dapat dipelajari, diajarkan dan ditingkatkan. Karena kemampuan Kecerdasan berdasarkan pada Susunan syaraf, maka hampir semua kemampuan mental dapat ditingkatkan sesuai usianya. Sejumlah latihan dapat dilakukan untuk memperkuat dan meningkatkan kecerdasan, hampir sama banyak seperti yang  kita lakukan untuk memperkuat dan meningkatkan “keahlian” kita, misalnya untuk memarkir mobil atau mengolah adonan. Secara umum, semakin sering kita berlatih semakin baik hasilnya. Setiap orang bisa belajar menjadi lebih cerdas dalam banyak hal dan lebih dari kemampuan yang diperkirakan. Kecerdasan adalah fenomena multidimensi yang tampil pada kapasitas multilevel dari otak, pikiran, dan sistem tubuh kita. Berdasarkan teori multiple intelligence ini, diungkapkan bahwa setiap orang memiliki sedikitnya delapan aspek kecerdasan, dengan tingkat yang berbeda-beda. Ada anak yang bisa mengaktualisasikannya, namun sayangnya ada pula yang tetap mengubur didalam dirinya tanpa pernah berkembang.

Untuk dapat mengasah semua potensi Kecerdasan yang dimiliki anak, marilah berkenalan lebih dekat dengan kedelapan Kecerdasan ini:

  1. Word Smart (Kecerdasan Linguistik)

Merupakan kepekaan terhadap bunyi dan bahasa. Dapt dikatakan pula sebagai kepandaian dalam mengolah kata-kata. Cara untuk mengembangkan Kecerdasan ini: sediakan waktu bercerita secara teratur dengan keluarga atau teman, melakukan permainan kata (TTS ata Scrabble),mengunjungi perpustakaan dan membaca buku secara teratur. Contoh mereka yang berhasil mengembangkan Kecerdasan ini: Penulis, Orator (Ir. Soekarno, Marthin Luther King, Shakespeare, Arswendo).

  1. Picture Smart (Kecerdasan Visual Spasial)

Merupakan kepekaan mempersepsi apa yang dilihat. Cara untuk mengembangkan kecerdasan ini: bermain puzzle, lego, rumah sesat, kubus rubik, mengumpulkan dan menyusun gambar-gambar dari majalah/ koran, ikut klub Menggambar dan fotografi, berimajinasi dengan gambar awan, mempelajari denah rumah dan kota. Contoh mereka yang berhasil mengembangkan kecerdasan ini: Seniman, Arsitek (Garin Nugroho, Frida Kahlo, Affandi).

  1. Music Smart (Kecerdasan Musikal)

Merupakan kemampuan menciptakan dan mengapresiasi irama, pola titik nada dan warna nada. Peka dan pandai dalam hal musik. Cara untuk mengembangkan kecerdasan ini: mendengarkan musik secara teratur, bermain tebak suara, bergabung dengan paduan suara/ klub vokal, belajar memainkan alat musik. Contoh mereka yang berhasil mengembangkankecerdasan ini: Komposer, Pemusik, Penyanyi (Richard Claydermen, Sherina)

  1. Body Smart (Kecerdasan Kinestetik – Jasmani)

Merupakan kemampuan mengontrol gerak tubuh dan kemahiran mengelola objek. Pandai dalam keterampilan olah tubuh dan gerak. Cara untuk mengembangkan kecerdasan ini: berolahraga secara teratur, mengukur panjang ruangan dengan kaki, bermain tebak benda dengan mata tertutup dan hanya menggunakan perabaan, meniti balok kayu keseimbangan. Contoh mereka yang berhasil mengembangkan Kecerdasan ini:

  1. Logic Smart (Kecerdasan Logis Matematis)

Kepekaan dalam memahami pola-pola logis atau numeric. Pandai dalam sains dan Matematika. Cara untuk mengembangkan Kecerdasan ini: berlatih menghitung dalam kegiatan sehari-hari seperti menghitung jumlah mobil dan menentukan uang kembalian, mengerjakan teka-teki angka/ logika, mempelajari buku tentang Matematika yang menarik seperti dalam bentuk komik, bermain catur, go, dan lain-lain. Contoh mereka yang berhasil mengembangkan Kecerdasan ini: ilmuwa, ahli Matematika (Habibie, Blaise Pascal, Madame Curie)

  1. People Smart (Kecerdasan Antar Pribadi)

Kemampuan mencerna dan merespons secara tepat suasana hati, kebutuhan, dan keinginan orang lain. Cara-cara untuk mengembangkan Kecerdasan ini: mengikuti kegiatan kelompok, ikut menjadi Anggota OSIS, mengunjungi panti asuhan/ panti jompo. Mengamati peristiwa sosial seperti kehidupan anak-anak jalanan. Contoh mereka yang berhasil mengembangkan Kecerdasan ini: konselor, pemimpin politik (Nelson Mandela, Margaret Thatcher).

  1. Self Smart (Kecerdasan Intra Pribadi)

Memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri, mengembangkan hobi yang unik, belajar menulis jurnal atau buku harian secara teratur. Contoh mereka yang berhasil mengembangkan Kecerdasan ini: psikoterapis (Sigmund Freud).

  1. Nature Smart (Kecerdasan Naturalis)

Kepekaan dan kepandaian dalam mengamati alam. Cara untuk mengembangkan Kecerdasan ini: mengamati unsur alam disekitar rumah, berkebun, memelihara binatang, menonton dan mendiskusikan acara tentang alam (seperti discovery channel, animal’s planet), masuk klub pecinta alam/ klub lingkungan, melakukan kegiatan di alam terbuka (seperti berkemah, cross country, meneropong binatang). Contoh mereka yang berhasil mengembangkan Kecerdasan ini: peneliti alam, ahli biologi (Charles Darwin, Jane Goodal).

Segala potensi Kecerdasan yang dimiliki akan tetap tinggal sebagai potensi yang terkubur bagaikan mutiara yang terpendam jauh didasar lautan, bila tidak ada upaya serta kerja keras untuk menggali dan mengasahnya terus-menerus. Berbekal pemahaman baru ini, kiranya kita dapat mengembangkan Kecerdasan ganda anak kita sejak dini untuk bekal hidupnya.

Referensi:

  1. BPK PENABUR News Bandung, edisi Mei 2004 hal 22

Majalah Toddler Vol. 2/ 2006

Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Mengembangkan “Life Skill” Pada Anak

Ada anak yang bernasib baik karena dibekali orang tuanya dengan pengasuhan positif, yang memungkinkannya memiliki sejumlah keterampilan yang dibutuhkan dalam mengahadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan. Sebaliknya,anak yang tidak beruntung, mendapatkan pola asuhan yang keliru. Mereka tidak memiliki keterampilan untuk mengatasi permasalahan hidup sehingga seringkali gagal, walaupun sudah berusaha keras.

Istilah keterampilan hidup tidak hanya terbatas pada aspek sosial maupun yang dicakup dalam konsep emotional intellegence. Keterampilan hidup adalah gabungan keterampilan untuk mengatasi empat bidang masalah kehidupan:

  1. Sekolah

Merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk memahami bahan pelajaran dan kemampuan akademis. Pada dasarnya mencakup keterampilan untuk berpikir, dan menerapkan hasil berpikir yang meliputi keterampilan untuk membaca, menulis, berhitung, pengetahuan umum serta berpikir kritis, logis, analitis dan aplikatif.

  1. Pergaulan

Meliputi keterampilan yang diperlukan untuk berinteraksi dengan orang lain. Bagaimana bertindak asertif, antara lain mengekspresikan keinginan, berani minta bantuan (tanpa merendahkan derajat), berani menolak permintaan, bisa memberikan pujian, teguran maupun saran dan mampu memperjuangkan hak. Selain asertif juga mampu mengenali emosi orang lain, emosi pribadi serta menyelesaikan pertikaian melalui negosiasi.

  1. Karir dan pekerjaan

Merupakan gabungan dari keterampilan dibidang sekolah dan pergaulan yang disebabkan oleh sifat pekerjaan. Dalam pekerjaan seseorang diharapkan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan formal sekaligus handal bergaul. Disamping itu, dalam lingkungan pekerjaan, seseorang juga diharapkan mau dan mampu bekerja sama sekaligus bersaing dengan rekan kerja. Uniknya, dalam melakukan persaingan harus menunjukkan ia mampu bekerjasama, karena hanya orang-orang yang mampu bekerjasama yang akan memenangkan persaingan.

  1. Ke-diri-an

Meskipun merupakan mahluk sosial, ada kalanya manusia harus berhadapan dengan dirinya sendiri. Seringkali manusia seakan-akan berrtarung dengan dirinya sendiri. Ada ‘bagian’ dirinya yang menginginkan hal tertentu, sedangkan bagian dari lainnya justru menginginkan hal bertentangan. Adanya berbagai situasi yang mengandung konflik, mengharuskan manusia memiliki prioritas sebagai pegangan dalam membuat keputusan. Untuk itu seseorang perlu mengenal konsekuensi dari pilihan. Selain kemampuan membuat keputusan, manusia juga diharapkan mampu mengendalikan perasaan khususnya yang kalau diungkapkan tidak pada tempatnya dapat merugikan. Harus menahan rasa marah dan kecewa, tetapi juga mampu menyalurkan kemarahan atau kekecewaan dengan cara yang dapat diterima lingkungan.

Mempersiapkan anak untuk menguasai keterampilan hidup, tidak boleh melupakan kenyataan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Juga harus diingat bahwa tiap keterampilan hanya dapat dicapai lewat cara khusus yang berbeda dengan cara untuk mencapai keterampilan lainnya.

Ada keterampilan yang dapat diajarkan, misalnya pengetahuan umum. Dalam hal ini anak cukup diberitahu dan akan bisa memahami. Ada keterampilan yang harus dibiasakan (dengan sanksi dan hadiah) bahkan dipaksakan (‘paksaan’ bersifat konsisten dan diikuti oleh ‘hadiah’). Ada juga keterampilan yang perlu dilatih sendiri. Lewat usaha peniruan (anak sendiri harus sering mengulang). Beberapa keterampilan hanya mungkin dicapai melalui kerja keras orang yang bersangkutan. Kemampuan menahan diri (misalnya) tidak bisa hanya diajarkan caranya. Ada keterampilan yang berkembang karena dipupuk secara tepat. Pada dasarnya manusia memiliki banyak potensi yang akhirnya tidak terwujud karena tidak mendapatkan pupuk yang tepat. Contohnya potensi anak untuk menjadi pribadi yang berinisiatif. Potensi ini tidak bisa berkembang karena pada saat yang kritis untuk perkembangannya, anak justru sering dihukum kalau menampilkan inisiatif.

Karena setiap keterampilan harus dicapai melalui cara tersendiri, maka dengan sendirinya diperlukan berbagai kegiatan untuk membantu anak menguasai keterampilan ini. Sebagian besar cara itu terkait dengan pola pengasuhan anak diwaktu kecil.

Fakta membuktikan:

  • Beberapa keterampilan hanya berkembang optimal pada “masa peka”. Untuk ini orang tua perlu lebih awas terhadap tahapan perkembangan anak.
  • Beberapa keterampilan bisa dicapai dengan adanya tekad yang didukung usaha gigih. Untuk itu dibiasakan anak mencoba hal yang sulit.
  • Ada keterampilan yang hanya dapa dicapai setelah tercapainya keterampilan lain.

Referensi:

  1. Majalah Toddler Vol. 8/ 2007
Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Menemukan Gaya Belajar Anak Melalui Modalitas

Gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Meskipun banyak peneliti menggunakan istilah yang berbeda dan menemukan berbagai cara untuk mengatasi gaya belajar ini, telah disepakati secara umum 2 (dua) kategori utama tentang bagaimana seseorang belajar. Pertama adalah bagaimana seseorang menyerap informasi dengan mudah (modalitas), dan kedua cara kita mengatur dan  mengolah informasi tersebut (dominasi otak).

Modalitas seseorang dapat dikenali sebagai modalitas visual, auditorial atau kinestetik (V-A-K). anak visual belajar melalui apa yang mereka lihat, auditorial belajar melalui apa yang mereka dengar, dan anak kinestetik belajar melalui gerak dan sentuhan. Walaupun pada umumnya seseorang belajar dengan menggunakan ketiga modalitas ini, pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu diantaranya. Dengan mengetahui gaya belajar anak ini, diharapakan akan lebih membantu orang tua maupun guru untuk dapat mengajar dan menyampaikan informasi kepada anak sesuai dengan gaya belajar anak.

Ciri-ciri perilaku anak yang menunjukkan kecenderungan belajar anak dapat dilihat seperti dibawah ini:

Visual:

N    Rapi dan teratur

N    Berbicara dengan cepat

N    Perencana dan pengatur jangka panjang yang baik

N    Teliti terhadap detail

N    Mementingkan penampilan, baik dalam hal pakaian maupun presentasi

N    Pengerja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka

N    Mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar

N    Mengingat dengan asosiasi visual

N    Biasanya tidak terganggu oleh keributan

N    Mempunyai masalah untuk Mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya

N    Pembaca cepat dan tekun

N    Lebih suka membaca daripada dibacakan

N    Membutuhkan pandangan dan tujuan yang menyeluruh dan bersikap waspada sebelum secara mental merasa pasti tentang suatu masalah atau proyek

N    Mencoret-coret tanpa arti selama berbicara ditelepon dan dalam rapat

N    Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain

N    Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat ya atau tidak

N    Lebih suka melakukan demonstrasi daripada berpidato

N    Lebih suka seni daripada musik

N    Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata

N    Kadang-kadang kehilangan konsentrasi ketika mereka ingin memperhatikan

Auditorial:

O Berbicara kepada diri sendiri saat bekerja

O Mudah terganggu oleh keributan

O Menggerakan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

O Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

O Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara

O Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita

O Berbicara dalam irama yang berpola

O Biasanya pembicara yang fasih

O Lebih suka musik daripada seni

O Belajar dengan mendengarkan dan Mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat

O Suka berbicara, suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu panjang lebar

O Mempunyai masalah dengan pekerjaan2 yang melibatkan visualisasi, seperti memotong bagian2 hingga sesuai satu sama lain

O Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

O Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

Kinestetik:

‚ Berbicara dengan perlahan

‚ Menanggapi perhatian fisik

‚ Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka

‚ Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang

‚ Selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak

‚ Mempunyai perkembangan awal otot2 yang besar

‚ Belajar melalui memanipulasi dan praktek

‚ Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

‚ Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca

‚ Banyak menggunakan isyarat tubuh. Dapat berkomunikasi dengan baik melalui bahasa tubuh

‚ Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama dan cepat bosan bila tidak terlibat dalam Aktivitas yang sedang terjadi diseklilingnya

‚ Tidak dapat Mengingat geografi, kecuali jika mereka memang telah pernah berada ditempat itu

‚ Menggunakan kata2 yang mengandung aksi/ tindakan

‚ Menyukai buku2 yang berorientaasi pada plot, mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

‚ Kemungkinan tulisannya jelek

‚ Ingin melakukan segala sesuatu

‚ Secara umum suka bermacam olah raga. Menyukai permainan yang menyibukkan

Bagaimana meningkatkan optimalisasi hasil belajar anak berdasarkan modalitasnya, berikut langkah-langkap yang dapat dilakukan:

Visual:

N    Dorong anak visual untuk membuat banyak symbol, gambar, peta, dan warna dalam catatan mereka. Berikan waktu untuk melakukannya

N    Dalam Matematika dan ilmu pengetahuan, table dan grafik akan memperdalam pemahaman mereka

N    Berdiri tenang saat menyajikan segmen informasi dan bergeraklah diantara segmen

N    Beri kode warna untuk bahan pelajaran dan perlengkapan, dorong anak menyusun pelajaran mereka dengan aneka warna

N    Peta pikiran dapat menjadi alat yang bagus bagi para anak visual dalam mata pelajaran apapun

N    Karena anak visual belajar terbaik saat mereka mulai dengan “gambaran keseluruhan”, melakukan tinjauan umum mengenai bahan pelajaran akan sangat membantu. Hal ini dapat dilakukan dengan membagikan salinan frase2 kunci atau garis besar pelajaranm sisakan ruang kosong untuk Catatan.

N    Gunakan kertas tulis dengan tulisan berwarna daripada polos. Lalu gantungkan grafik berisi informasi penting di sekeliling ruangan pada saat guru menyajikannya dan rujuk kembali grafik itu.

N    Gunakan bahasa ikon (symbol) dalam presentasi guru, dengan menciptakan symbol visual atau ikon yang mewakili konsep kunci

Auditorial:

O Gunakan variasi vokal (perubahan nada, kecepatan, dan volume) dalam memberi penjelasan

O Ajarkan sesuai dengan cara guru menguji, jika guru menyajikan informasi dalam urutan atau format tertentu, ujilah informasi itu dengan cara yang sama

O Gunakan pengulangan. Minta anak menyebutkan kembali konsep kunci dan setelah setiap segmen pengajaran, minta siswa memberitahukan teman disebelahnya satu hal yang dipelajari

O Nyanyikanlah konsep kunci atau minta anak mengarang lagu/ nada mengenai konsep itu.

O Para anak auditorial mungkin lebih suka pada kasset daripada Mencatat, karena mereka suka mendengarkan informasi berulang-ulang

O Mereka mungkin mengulang sendiri dengan keras apa yang dikatakan oleh guru, mereka tentu saja menyimak, hanya saja mereka suka mendengarkannya lagi. Jika mereka kesulitan dengan suatu konsep, maka sangat perlu untuk membantu mereka berbicara dengan diri mereka sendiri untuk memahaminya

O Kembangkan dan dorong siswa untuk memikirkan jembatan kedelai untuk menghafal konsep kunci

O Ada anak auditorial yang suka mendengarkan musik sambil belajar, ada yang menganggapnya sebagai gangguan

O Anak auditorial harus diperbolehkan berbicara dengan suara perlahan pada diri mereka sendiri sambil bekerja

O Gunakan musik sebagai aba2 untuk kegiatan rutin

Kinestetik:

‚ Gunakan alat Bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan menekankan konsep2 kunci

‚ Ciptakan simulasi konsep agar bisa mengalaminya

‚ Berikan bimbingan dengan duduk disebelah mereka, bukan didepan atau dibelakang mereka

‚ Cobalah berbicara secara pribadi setiap hari sekalipun hanya salam

‚ Peragakan konsep sambil memberikan kesempatan kapada anak untuk mempelajarinya langkah demi langkah. Tunjukkin caranya kepada mereka melalui demonstrasi. Anak-anak ini menyukai proyek terapan

‚ Para anak kinestetik suka belajar suka belajar melalui gerakan, dan paling baik menghafal informasi dengan mengasosiasikan gerakan dengan setiap fakta

‚ Ceritakan pengalaman pribadi orang tua mengenai wawasan belajar pada anak dan dorong mereka untuk melakukan hal yang sama. Lakon pendek dan lucu terbukti dapat membantu.

‚ Banyak anak kinestetik menjauhkan diri dari bangku, mereka lebih suka duduk dilantai dan menyebarkan pekerjaan disekeliling mereka. Izinkan pula mereka berjalan-jalan

Referensi:

  1. Seminar Program: Pemetaan Gaya Belajar Anak dan Mengetahui Langkah-langkah Tepat Menyikapinya, R.A. Maria Luisa Retna, S.PSi
  2. Majalah Toddler Vol. 6/ 2007
Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Mempersiapkan Kematangan Sosial dan Emosional Anak Memasuki Masa Sekolah

Kecemasan orang tua biasanya muncul ketika mendapati anaknya belum bisa ditinggal sebagaimana anak-anak lainnya. Orang tua perlu terus berada dalam jangkauan pandangan anak. Atau anak enggan kesekolah. Selalu terjadi perdebatan setiap pagi sebelum berangkat kesekolah, menangis dan lain sebagainya.

Kesiapan mental baik orang tua maupun anak sangat diperlukan pada saat anak mulai masuk kelompok bermain, karena memasuki masa sekolah adalah masa di mana saatnya anak mulai belajar untuk mandiri.

Kemandirian, kebahagiaan dan rasa aman pada anak tergantung pada cinta dan harga diri. Anak yang mempunyai harga diri tidak perlu menarik perhatian orang tua secara terus-menerus dengan perilaku yang buruk.

Cara orang tua bertindak sebagai orang tua akan berubah seiring dengan pertumbuhan anak. Selain mengajarkan hal-hal sederhana pada anak tentang apa yang harus mereka lakukan. Orang tua perlu juga mengajarkan Mengapa mereka harus berperilaku seperti itu, dan bahwa mereka juga harus mempertimbangkan orang lain, tidak hanya dirinya sendiri.

Untuk dapat membentuk kematangan sosial dan emosional yang baik memang diperlukan waktu dan latihan untuk belajar. Berikut ini beberapa kualitas yang dapat dikembangkan anak untuk mencapai keberhasilan disekolah:

  • Percaya diri

Anak harus belajar untuk merasa nyaman dengan dirinya dan percaya bahwa mereka dapat melakukannya. Anak yang mempunyai rasa percaya diri akan lebih mau berusaha dalam menghadapi tugas-tugas yang baru dan mencobanya lagi kalau mereka tidak berhasil pertama kalinya.

  • Kemandirian

Anak-anak perlu belajar untuk melakukan beberapa tugas tanpa perlu dibantu.

  • Motivasi

Anak harus punya keinginan untuk belajar

  • Rasa ingin tahu

Anak mempunyai ketertarikan dan rasa ingin tahu. Hal ini harus dipertahankan agar mendapatkan hasil belajar yang optimal.

  • Persisten (Keajegan)

Anak harus belajar menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.

  • Kerjasama

Anak harus dapat bergaul dengan anak-anak lain dan belajar berbagi serta menunggu giliran.

  • Mengontrol diri:

Anak harus mengerti bahwa perilaku tertentu, seperti memukul, mengigit adalah tidak pada tempatnya. Mereka perlu belajar adanya cara-cara yang baik dan buruk untuk mengekspresikan kemarahan.

  • Empati

Anak harus belajar untuk mempunyai ketertarikan pada anak yang lain dan memahami bagaimana perasaan anak lain.

Baik orang tua maupun sekolah perlu membantu anak mengembangkan keterampilan ini. Beberapa cara yang dapat membantu menguasai Keterampilan tersebut antara lain:

  1. Beri contoh yang baik

Anak meniru apa yang dilakukan orang lain dan mendengar apa yang dikatakan orang lain. Kalau orang tuanya memperlakukan orang lain dengan hormat, kemungkinan mereka juga melakukan hal tersebut.

  1. Berperilaku positif

Anak-anak berada di dunia ini dengan kebutuhan untuk menjelajah dan menemukan. Sebagai orang tua perlu mendorong rasa ingin tahunya. Antusias terhadap apa yang dilakukan anak akan membantu anak untuk merasa bangga akan prestasinya. Anak akan menunjukan ketertarikan terhadap sekolah apabila orang tua juga menunjukan ketertarikan yang sama.

  1. Berilah kesempatan untuk mengulang

Perlu berlatih untuk belajar menyebutkan kata-kata baru, atau minum dari gelas. Ulang segala Aktivitas tersebut sampai mereka benar-benar menguasai akan membantu anak-anak Membangun percaya diri dalam mencoba hal-hal baru.

  1. Gunakan disiplin yang sesuai

Semua anak memerlukan pembatasan. Anak dari orang tua yang bersikap cukup tegas dan disiplin namun penuh kasih saying, biasanya akan lebih terampil dalam sosialisasi dan lebih baik disekolah dibanding anak-anak dengan orang tua yang sangat membatasi atau justru kurang membatasi aktivitas.

  1. Biarkan anak mengerjakan sendiri.

Anak-anak yang lebih kecil perlu diawasi, meskipun mereka perlu belajar mandiri dan mengembangkan rasa percaya dirinya dengan mengerjakan tugas-tugas seperti berpakaian sendiri dan menata mainannya. Penting juga untuk membiarkan anak mempunyai pilihan, daripada orang tua yang selalu memutuskan untuknya. Sebisa mungkin berikan anak kesempatan untuk memilih.

  1. Dorong anak untuk bermain yang orang lain.

Anak usia pra-sekolah memerlukan kesempatan sosial ini untuk belajar pandangan dari orang lain. Anak-anak yang masih kecil lebih mudah beradaptasi dengan guru dan teman-teman sekelasnya apabila mereka telah mempunyai pengalaman bergaul dengan orang dewasa anak lain.

Dengan menjalankan hal-hal ini, kiranya anak-anak akan tumbuh dengan kematangan sosial dan emosional yang lebih baik.

Referensi:

1. Majalah Toddler Vol 5/ 2006

Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Kesulitan Belajar Pada Anak dan Penanganannya

Kesulitan Belajar Anak

Kesulitan belajar anak (learning disabilities) merupakan disiplin ilmu yang dinamik yang selalu berubah dengan kemajuan iptek dan perubahan dalam masyarakat. National Joint Committee on Learning Disabilities (NJCLD) menyatakan bahwa: “kesulitan belajar adalah istilah generic yang merupakan kelompok kelainan yang heterogen yang bermanifestasi sebagai kesulitan yang bermakna dalam memperoleh dan menggunakan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, mengeluarkan pendapat dan matematika. Kelainan ini adalah intrinsik dari individu dan disebabkan karena disfungsi system saraf pusat. Kesulitan belajar ini dapat menyertai kelainan lain seperti kelainan sensoris, retardasi mental, kelainan social dan emosional atau pengaruh lingkungan (seperti perbedaan budaya, atau instruksi yang salah dan factor psikolinguistik), tapi bukan sebagai akibat langsung dari kelainan atau pengaruh tersebut.

Dalam beberapa decade terakhir dengan teknologi dan pendekatan canggih telah dilakukan berbagai penelitian langsung tentang hubungan antara perilaku (behavior) dan struktur serta fungsi otak manusia yang dapat menjelaskan jenis kesulitan belajar spesifik karena disfungsi otak.

Wiederbolt (1974) membagi sejarah bidang kesulitan belajar dalam 4 fase, yaitu:

1.Fase Dasar (Foundation Phase), tahun 1800-1930, yang merupakan fase dimana dilakukan penelitian dasar tentang otak dan gangguannya.

2.Fase Transisi (Transition Phase), tahun 1930-1960, dimana penelitian tentang otak diterapkan pada studi klinis pada anak dan dikembangkan dalam metode pendidikannya.

3.Fase Integrasi (Integration Phase), tahun 1960-1980, merupakan fase dimana kesulitan belajar merupakan disiplin tetap didalam sekolah diseluruh negeri.

4.Fase Kontemporer (Contemporary Phase), tahun 1980-Sekarang. Dalam fase ini terdapat berbagai perubahan dalam arah dan perkembangan konsep dan ide baru dalam kesulitan berlajar.

Identifikasi Kesulitan Belajar

Meier (dikutip oleh Johnson & Morasky, 1980) mengungkapkan pendidik dapat mengidentifikasikan dengan benar 2 dari tiga tingkah laku anak yang dapat diamati, yaitu:

1.  Sebagai ciri dari kesulitan belajar: Perhatian yang singkat, tidak mampu berkonsentrasi, kemampuan membaca yang benar-benar lamban dan kesulitan bahasa.

2. Sedangkan dalam bentuk perilaku lain adalah tidak adanya perhatian yang sifatnya auditif atau visual, koordinasi gerak yang tidak memadai, toleransi terhadap frustasi yang rendah, suasana hati yang berubah-ubah, dan kelemahan kemampuan persepsi.

Penyebab Kesulitan Belajar

Penyebab utama kesulitan belajar (Gaddes, Johnson & Myklebust, Njjiokittjien) adalah:

  1. Fisiologis

Penyebabnya adalah disfungsi neurologist yang dapat disebabkan oleh factor genetic, biokimiawi, kurang gizi, cedera yang terjadi pada periode prenatal atau perinatal atau pascanatal

  1. Psikologis dan Psikiatris
  2. Sosiologis atau Lingkungan

Karakteristik Kesulitan Belajar

Gejala kesulitan belajar dapat berupa:

  1. Defisit atensi (Attention Deficit Disorders/ ADDS)

Rentang atensi yang pendek, kemampuan konsentrasi yang kurang, perhatian yang mudah beralih, dan dengan atau tanpa hiperaktifitas.

  1. Kesulitan belajar spesifik

Kesulitan berbahasa (disfasia), kesulitan membaca (disklesia), kesulitan menulis (disgrafia), kesulitan matematika/ aritmatika (diskalkuli)

  1. Disfungsi Motorik

Kesulitan koordinasi motorik (dispraksi, clumsy)

  1. Defisit dalam proses informasi dan persepsi

Kesulitan dalam diskriminasi rangsang visual dan auditoris, urutan (sequence).

Penanganan Anak Dengan Kesulitan Belajar

Penanganan kesulitan belajar ini memang sangat rumit karena menyangkut anak yang masih muda usianya, belum dapat mengemukakan keluhannya secara jelas dan sangat bergantung pula pada tahap perkembangan dimana anak itu berada. Dibawah ini beberapa program yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Prinsip Kebersamaan

Mencakup 3 unsur, yaitu: pengajar (guru), professional dan orangtua atau wali. Ketiganya merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program. Orangtua diberi laporan perkembangan anak secara teratur. Keberhasilan anak tidak terlepas dari peran orangtua dalam mendidik anak dirumah

  1. Pendekatan Pembelajaran Komprehensif dan Transdisipliner

Semua Profesional yang menangani bekerja secara komprehensif (holistic) dalam satu wadah dan masing-masing mengenal kemampuan anak secara utuh.

  1. Program Pembelajaran Individual (Individual Education Program) dan Gabungan

Program disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak dan ditangani oleh seorang guru atau terapis. Program gabungan terdiri dari beberapa anak (3-4 anak) dalam kelompok yang homogen dalam usia, kognisi dan perilaku, ditangani oleh dua pengajar (guru dan terapis). Prinsip gabungan adalah untuk memperbaiki sosialisasi anak, memotivasi anak dan proses keteladanan anak dengan meniru anak yang lebih mampu.

  1. Konsep Integrasi Sensoris (Sensory Integration)

Memberi stimulasi atau rangsangan indera secara integrative atau terpadu. Dalam ilmu otak (brain science) konsep ini akan meningkatkan kemampuan otak (brain power) sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar anak.

  1. Konsep Gerak dan Latih Otak – GLO (Brain Movement And Exercise) atau Brain Gym

Adalah sebuah senam yang dilakukan secara fisik, tetapi mengandung gerakan-gerakan yang spesifik yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi anak, sehingga anak lebih siap untuk belajar. Brain Gym didasarkan pada tiga pokok yang sederhana (Dennison & Dennison, 2004):

(1)    Belajar adalah kegiatan yang alami dan menyenangkan yang terus terjadi sepanjang hidup.

(2)    Kesulitan belajar adalah ketidakmampuan mengatasi stres dan keraguan dalam menghadapi suatu tugas baru.

(3)    Kita semua mengalami kesulitan belajar selama kita telah belajar untuk tidak bergerak.

Gerakan Brain Gym yang sederhana, aman, alamiah dan murah merupakan alternatif menghadapi ketegangan dan tantangan pada diri anak khususnya mengalami kesulitan belajar di sekolah. Gerakan Brain Gym adalah gerakan saling silang dimana anggota tubuh sebelah kanan menyentuh tubuh sebelah kiri. Atau anak melakukan gerakan tangan yang saling menyilang bergantian antara tangan kanan dan kiri. Belahan otak kanan mengatur Anggota tubuh kiri dan sebaliknya. Bila kedua belahan otak dapat sama kuat dan terintegrasi satu sama. Fungsi otak menjadi optimal yaitu kedua belahan bekerja sama dalam proses belajar.

Referensi:

  1. Sidiarto, Lily Djokosetio (2007) Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar Pada Anak. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

Majalah Toddler Vol. 4/ 2006

Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Cegah Agresivitas dan Antisosial Anak Pra Sekolah

Tidak mudah membentuk perilaku bermoral dan Mengurangi agresif anak usia pra sekolah, yang memang masih terlalu muda untuk diberi pengertian tentang moral dan aturan norma. Namun ada langkah-langkah jitu mencegah anak tumbuh menjadi agresif dan antisosial, yang dapat diterapkan oleh para orang tua maupun guru agar anak atau murid tersayang kelak tidak berkembang menjadi pribadi yang agresif dan antisosial:

–    Beri kesempatan anak mengamati bagaimana bertingkah laku prososial, seperti:

a) membantu orang lain dan mengembangkan sikap kooperatif dalam mengatasi konflik. Dalam hal ini, penting bagi guru maupun orang tua untuk dapat menjadi model. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam bentuk bermain peran misalnya.

b)Mendorong anak terlibat dalam aktivitas yang memerlukan kerjasama, misalnya: Menggambar atau mewarnai bersama teman-temannya di satu kertas gambar yang sama, membereskan mainan bersama, menyusun balok secara berkelompok.

–    Jangan mengabaikan perilaku agresif sekecil apapun. Orang tua atau guru harus sigap menanggapi dan sampaikan pesan yang jelas bahwa agresivitas merupakan cara yang tidak tepat untuk menyelesaikan konflik.

–    Mengawasi tayangan televise yang diperuntukkan bagi anak-anak, terutama yang mengandung adegan-adegan kekerasan. Film kartun tidak selamanya cocok bagi anak-anak. Ada baiknya, orang tua meluangkan waktu untuk menyaksikan dan menilai tayangan yang disukai anak, sehingga bisa diketahui apakah tayangan tersebut pantas atau tidak disaksikan oleh anak-anak. Beberapa hasil penelitian telah membuktikan bahwa menyaksikan adegan kekerasan di televise berpeluang untuk secara langsung meningkatkan perilaku agresif pada anak. Pada waktu yang sama, doronglah anak untuk menyaksikan tayangan acara yang dirancang khusus untuk meningkatkan perilaku bermoral. Diantaranya Sesame Street (Jalan Sesame).

–    Jika anak suka kegiatan mendongeng, pilihlah cerita-cerita klasik yang sarat dengan pesan moral seperti dongeng karya Hans Christian Andersen. Bacakan secara teratur sehingga pesan moral dapat diserap dan melekat.

–    Membantu anak pra usia sekolah menemukan penjelasan  alternatif bagi perilaku yang ditampilkan oleh orang lain. Hal ini terutama penting bagi anak-anak yang memiliki kecenderungan untuk berperilaku agresif atau memiliki anggapan berlebihan tentang perilaku yang ditampilkan oleh temannya. Misalnya: menganggap temannya tidak mau berteman dengannya lagi karena ia pernah merebut mainan milik temannya. Dalam hal ini, orang tua maupun guru berkewajiban untuk menjelaskan pada anak bahwa sebuah perilaku bisa memiliki beberapa makna atau interpretasi yang berbeda-beda.

–    Membantu anak memahami perasaannya. Pada saat anak menjadi marah, hal yang sering terjadi pada usia pra sekolah, mereka sesunggunhya butuh untuk belajar bagaimana mengatasi perasaan konstruktif. Katakan secara spesifik hal-hal yang dapat membantu mereka untuk memperbaiki situasi. Misalnya: “mama lihat kamu marah sekali ya sama si Dodi karena dia tidak memperbolehkan kamu ikut main mobil-mobilan. Kamu tidak perlu mukul, coba bilang sama dia kalau kamu ingin ikut main”.

–    Secara eksplisit ajarkan anak melakukan penalaran terhadap situasi yang dihadapi dan belajar mengendalikan diri. Anak usia pra sekolah dapat memahami aturan moral yang sederhana dan selayaknya diingatkan mengapa perilaku tertentu lebih disetujui secara sosial, dibandingkan perilaku lainnya. Sebagai contoh, lebih baik mengatakan pada anak: “Kalau kamu habiskan  semua kue itu, nanti orang lain tidak kebagian”.

Dengan menerapkan hal-hal ini dalam keseharian, secara perlahan anak belajar untuk bertingkah laku yang lebih sesuai dengan yang diharapkan.

Referensi:

1. Majalah Toddler Vol. 9/ 2007

Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Bermain Membuat Anak Lebih Baik Dalam Belajar

Seringkali anak mengajak orang tuanya untuk ikut bermain, namun karena kesibukan banyak orang tua tidak mempunyai waktu untuk itu. Kepadatan kerja membuat para orang tua di kota besar mempunyai waktu yang sangat sedikit untuk meluangkan waktu bermain bersama anaknya. Banyak orang tua di kota besar berangkat ke tempat kerja pada pagi hari sebelum anaknya berangkat sekolah dan pulang larut malam pada saat anak telah tidur. Padahal bermain merupakan hal penting bagi anak. Anak dapat menemukan atau mengetahui dunia dengan bermain. Anak bermain untuk kesenangan dalam hidupnya. Banyak orang percaya bahwa dengan bermain akan memperpanjang usia. “Pertama bekerja setelah itu baru bermain” atau “Hidup bukanlah permainan anak-anak, tetapi kerja keras”, begitulah kalimat pada orang dewasa. Apakah sebenarnya manfaat bermain?

  1. Bermain mencerminkan beragamnya tingkah laku manusia.

Mereka yang memperhatikan permainan akan menemukan jawaban. Mereka yang bermain dapat belajar mengatasi masalah, berpikir, mendapat banyak pengalaman. Permainan membutuhkan atau dapat memunculkan semua tingkah laku/ sifat manusia: kemarahan dan kegembiraan, persaingan dan kerjasama, kebersamaan dan kemandirian. Sebuah permainan dapat membuat kita untuk berpikir dan menunjukkan kemampuan dibawah tekanan. Misalnya, keberanian, lelucon, kecerdikan, dan keinginan untuk tidak mudah menyerah.

Sebuah permainan diciptakan dengan mengambil kebiasaan hidup sehari-hari. Dalam dunia tertutup kita berada di tempat itu dan melakukan suatu peran. Permainan mirip dengan potongan drama yang kita perankan. Dunia permainan ada hanya untuk waktu tertentu dan terbatas, kemudian dunia itu menghilang. Bila kita menyukainya kita dapat melakukannya kembali di dunia itu.

  1. Permainan berguna untuk setiap tahap perkembangan kepribadian anak

Perkembangan kepribadian dan permainan mempunyai Hubungan yang sangat erat. Setiap tahap perkembangan membutuhkan rangsangan permainan. Anak seperti orang dewasa belajar dengan kesenangan, eksperimen, dan pengulangan. Oleh karena itu, dibutuhkan kemampuan seperti: kemampuan berpikir dan kemampuan mengambil keputusan. Kerangka aturan membentuk aturan permainan.

Permainan yang terkait dengan keberuntungan seperti kartu, dan dadu (ular tangga) serta permainan yang membutuhkan kemampuan kognitif dan pengetahuan seperti kuis, dapat merangsang perkembangan otak.

  1. Dalam permainan anak dapat menunjukkan kemampuannya.

Dalam permainan anak dapat belajar banyak hal, misalnya berkomunikasi antar mereka, bekerjasama, selih berganti bermain. Mereka belajar hal yang ada dibalik permainan dan berkompetisi atau bersaing dengan jujur. Anak juga mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, misalnya membedakan warna, menyusun, menghitung, mengatur, dan Mengingat sesuatu.

Anak mengalami perkembangan pemahaman aturan (permainan) pada usia 5 dan 6 tahun. Mereka dapat mempunyai tekad melakukan pembagian tugaas dalam rangkaian permainan.

Permainan dengan peraturan yang kompleks sangat berguna bagi anak. Dengan demikian, anak dapat mengambil sikap seperti membuat rencana dan mengambil keputusan dalam permainan. Anak akan membuat strategi ketika ikut dalam permainan tersebut. Kemampuan tersebut mulai berkembang pada usia sekolah dasar dan terus meningkat hingga usia dewasa.

Dengan bermain anak juga dapat belajar dan meningkatkan kemampuan sosialisasi serta merangsang kemampuan intelektualnya. Mereka yang dapat bermain dapat belajar untuk hidup lebih baik dalam jangka waktu yang panjang. Dengan demikian, para orang tua harus pandai mengatur waktunya dan memperhatikan waktu bermain anak agar anaknya mempunyai kesempatan bermain yang cukup, sehingga di masa datang anak tersebut dapat berpikir dan bersikap optimal.

Referensi:

  1. Majalah Anak Jakarta Vol II Edisi 3

http://www.kinder.de

Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Selebritis Cilik: Ekplorasi atau Ekploitasi Anak?

Banyak tayangan program televisi yang menampilkan anak sebagai tokoh utama dalam programnya, seperti acara talent show, musik, dan yang paling banyak adalah program drama, sinetron tepatnya. Dalam tayangan tersebut si anak dituntut untuk bisa berakting sebaik mungkin dan mengerahkan seluruh potensi yang mereka miliki hingga sehingga menghasilkan tayangan program yang menarik. Sebenarnya ini cukup  menarik karena melalui akting atau aksi yang dikerjakan anak tersebut secara tidak langsung belajar mengasah bakat serta merangsang kreatifitas dalam  diri mereka. Frekuensi aktifitas akting yang tinggi juga dengan sendirinya membentuk mereka menjadi pribadi yang terlatih dan profesional.

Satu hal yang menimbulkan pertanyaan adalah bagaimana dengan aktifitas mereka sehari-hari? Aktifitas yang dimaksud tentunya adalah aktifitas anak pada umumnya, yakni aktifitas belajar dan bermain. Bila melihat dari jadwal syuting yang padat, terlebih lagi bila anak tersebut terlibat dalam sinetron yang kejar tayang (stripping), adakah kesempatan bagi mereka untuk melakukan aktifitas “anak” yang merupakan hak mereka sebagaimana diperoleh anak-anak lain yang sebaya dengan mereka? Bisakah mereka mengembangkan bakat mereka yang lain diluar dari bakat akting mereka?

Ekplorasi bakat itulah yang sering dijadikan sebagai latar belakang. Apakah yang dimaksud sesungguhnya dengan ekplorasi bakat itu? Apakah perbedaanya dengan eksploitasi bakat? Mari kita telusuri…

Fenomena ini sebenarnya bagaikan sebuah misteri, tentunya kita tidak pernah tahu persis apa yang dirasakan anak-anak tersebut. Seringkali semuanya tampak biasa, bahkan ketika para wartawan infotainment mencoba melontarkan pertanyaan yang berkenaan dengan hal ini kebanyakan dari mereka sendiri mengakui dan menyatakan bahwa mereka sangat menikmati status dan aktifitas mereka sebagai selebritis cilik. Mereka tidak pernah merasa keberatan atau tertekan meskipun waktu mereka tersita untuk aktifitas “ke-selebritisan” mereka. Semoga memang demikian realitanya.

Ditinjau dari sisi psikologi keberadaan anak-anak sebagai selebritis cilik sebenarnya kurang berdampak baik bagi perkembangan diri anak. Bagaimanapun Komunitas dan aktifitas dimana anak berada akan berpengaruh pada diri anak, baik dalam pola pikir maupun tindakan atau perilaku. Akan lebih baik bila kehidupan anak bisa berjalan normal dengan segala aktifitasnya sebagaimana wajarnya. Bukan berarti anak tidak boleh berkecimpung dalam dunia akting, tapi seharusnya ada batasan-batasan yang tetap dijaga sehingga kehidupan anak dapat tetap berjalan normal. Dengan berakting mungkin kita dapat meng-eksplorasi bakat anak, memberikan kesempatan pada mereka untuk mengekspresikan juga mengembangkan bakat mereka. Tapi bila terlalu berlebihan dilakukan hal itu malah sama saja dengan mengambil hak mereka bahkan meng-eksploitasi bakat mereka. Sebenarnya bukan soal hak yang menjadi permasalahn utama disini, yang lebih utama adalah dampak, bagaimana produk yang dihasilkan dari lingkungan dan aktifitas seperti itu. Belum lama ini terjadi satu peristiwa yang cukup memprihatinkan dimana seorang artis belia tiba-tiba memasukkan video tentang dirinya yang disebarluaskan melalui internet. Dalam video itu dia mencurahkan segala kekesalannya secara histeris tentang teman-temannya ketika ia masih dibangku SMP. Keadaan ini sungguh menyedihkan karena artis ini dikenal sebagai artis yang alim, manis bahkan saleh. Keberadaannya sebagai artis telah dikenal sejak ia masih kecil ketika ia membintangi sebuah sinetron anak. Bahkan hingga saat ini ia terus dikenal sebagai artis berbakat dan membintangi cukup banyak sinetron. Dikatakan dalam berita tersebut bahwa kejadian itu terjadi karena artis tersebut sedang mengalami sakit dan belum bisa menerima kenyataan, benarkah seperti itu? Lalu mengapa ia seakan marah terhadap teman-temannya dibangku SMP? Sungguh membingungkan. Tapi kita tidak akan menelusuri penyebab itu. karena kita pun tidak pernah tahu alasan apa yang sebenarnya menyebabkan ia melakukan tindakan itu, hanya ia dan Tuhan yang mengetahuinya, betul.

Terlepas dari semua anggapan dan reaksi, sekali lagi suatu perkara yang sulit untuk bisa disimpulkan begitu saja atas kisah kehidupan dari para “selebritis cilik”. Tentunya banyak faktor dibelakangnya yang melatarbelakangi keberadaannya. Satu hal yang harus tetap diingat adalah bagaimanapun keadaan yang ada, janganlah lupa bahwa anak adalah titipan Tuhan yang bukan saja harus diasah bakatnya tapi juga harus dibentuk ahklaknya (karakter) sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik dan berguna dengan sebenar-benarnya.

Older Posts »

Categories