Posted by: asiaaudiovisualexc09lucylaveni | February 9, 2010

Kesulitan Belajar Pada Anak dan Penanganannya

Kesulitan Belajar Anak

Kesulitan belajar anak (learning disabilities) merupakan disiplin ilmu yang dinamik yang selalu berubah dengan kemajuan iptek dan perubahan dalam masyarakat. National Joint Committee on Learning Disabilities (NJCLD) menyatakan bahwa: “kesulitan belajar adalah istilah generic yang merupakan kelompok kelainan yang heterogen yang bermanifestasi sebagai kesulitan yang bermakna dalam memperoleh dan menggunakan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, mengeluarkan pendapat dan matematika. Kelainan ini adalah intrinsik dari individu dan disebabkan karena disfungsi system saraf pusat. Kesulitan belajar ini dapat menyertai kelainan lain seperti kelainan sensoris, retardasi mental, kelainan social dan emosional atau pengaruh lingkungan (seperti perbedaan budaya, atau instruksi yang salah dan factor psikolinguistik), tapi bukan sebagai akibat langsung dari kelainan atau pengaruh tersebut.

Dalam beberapa decade terakhir dengan teknologi dan pendekatan canggih telah dilakukan berbagai penelitian langsung tentang hubungan antara perilaku (behavior) dan struktur serta fungsi otak manusia yang dapat menjelaskan jenis kesulitan belajar spesifik karena disfungsi otak.

Wiederbolt (1974) membagi sejarah bidang kesulitan belajar dalam 4 fase, yaitu:

1.Fase Dasar (Foundation Phase), tahun 1800-1930, yang merupakan fase dimana dilakukan penelitian dasar tentang otak dan gangguannya.

2.Fase Transisi (Transition Phase), tahun 1930-1960, dimana penelitian tentang otak diterapkan pada studi klinis pada anak dan dikembangkan dalam metode pendidikannya.

3.Fase Integrasi (Integration Phase), tahun 1960-1980, merupakan fase dimana kesulitan belajar merupakan disiplin tetap didalam sekolah diseluruh negeri.

4.Fase Kontemporer (Contemporary Phase), tahun 1980-Sekarang. Dalam fase ini terdapat berbagai perubahan dalam arah dan perkembangan konsep dan ide baru dalam kesulitan berlajar.

Identifikasi Kesulitan Belajar

Meier (dikutip oleh Johnson & Morasky, 1980) mengungkapkan pendidik dapat mengidentifikasikan dengan benar 2 dari tiga tingkah laku anak yang dapat diamati, yaitu:

1.  Sebagai ciri dari kesulitan belajar: Perhatian yang singkat, tidak mampu berkonsentrasi, kemampuan membaca yang benar-benar lamban dan kesulitan bahasa.

2. Sedangkan dalam bentuk perilaku lain adalah tidak adanya perhatian yang sifatnya auditif atau visual, koordinasi gerak yang tidak memadai, toleransi terhadap frustasi yang rendah, suasana hati yang berubah-ubah, dan kelemahan kemampuan persepsi.

Penyebab Kesulitan Belajar

Penyebab utama kesulitan belajar (Gaddes, Johnson & Myklebust, Njjiokittjien) adalah:

  1. Fisiologis

Penyebabnya adalah disfungsi neurologist yang dapat disebabkan oleh factor genetic, biokimiawi, kurang gizi, cedera yang terjadi pada periode prenatal atau perinatal atau pascanatal

  1. Psikologis dan Psikiatris
  2. Sosiologis atau Lingkungan

Karakteristik Kesulitan Belajar

Gejala kesulitan belajar dapat berupa:

  1. Defisit atensi (Attention Deficit Disorders/ ADDS)

Rentang atensi yang pendek, kemampuan konsentrasi yang kurang, perhatian yang mudah beralih, dan dengan atau tanpa hiperaktifitas.

  1. Kesulitan belajar spesifik

Kesulitan berbahasa (disfasia), kesulitan membaca (disklesia), kesulitan menulis (disgrafia), kesulitan matematika/ aritmatika (diskalkuli)

  1. Disfungsi Motorik

Kesulitan koordinasi motorik (dispraksi, clumsy)

  1. Defisit dalam proses informasi dan persepsi

Kesulitan dalam diskriminasi rangsang visual dan auditoris, urutan (sequence).

Penanganan Anak Dengan Kesulitan Belajar

Penanganan kesulitan belajar ini memang sangat rumit karena menyangkut anak yang masih muda usianya, belum dapat mengemukakan keluhannya secara jelas dan sangat bergantung pula pada tahap perkembangan dimana anak itu berada. Dibawah ini beberapa program yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Prinsip Kebersamaan

Mencakup 3 unsur, yaitu: pengajar (guru), professional dan orangtua atau wali. Ketiganya merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program. Orangtua diberi laporan perkembangan anak secara teratur. Keberhasilan anak tidak terlepas dari peran orangtua dalam mendidik anak dirumah

  1. Pendekatan Pembelajaran Komprehensif dan Transdisipliner

Semua Profesional yang menangani bekerja secara komprehensif (holistic) dalam satu wadah dan masing-masing mengenal kemampuan anak secara utuh.

  1. Program Pembelajaran Individual (Individual Education Program) dan Gabungan

Program disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak dan ditangani oleh seorang guru atau terapis. Program gabungan terdiri dari beberapa anak (3-4 anak) dalam kelompok yang homogen dalam usia, kognisi dan perilaku, ditangani oleh dua pengajar (guru dan terapis). Prinsip gabungan adalah untuk memperbaiki sosialisasi anak, memotivasi anak dan proses keteladanan anak dengan meniru anak yang lebih mampu.

  1. Konsep Integrasi Sensoris (Sensory Integration)

Memberi stimulasi atau rangsangan indera secara integrative atau terpadu. Dalam ilmu otak (brain science) konsep ini akan meningkatkan kemampuan otak (brain power) sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar anak.

  1. Konsep Gerak dan Latih Otak – GLO (Brain Movement And Exercise) atau Brain Gym

Adalah sebuah senam yang dilakukan secara fisik, tetapi mengandung gerakan-gerakan yang spesifik yang dapat meningkatkan kewaspadaan dan konsentrasi anak, sehingga anak lebih siap untuk belajar. Brain Gym didasarkan pada tiga pokok yang sederhana (Dennison & Dennison, 2004):

(1)    Belajar adalah kegiatan yang alami dan menyenangkan yang terus terjadi sepanjang hidup.

(2)    Kesulitan belajar adalah ketidakmampuan mengatasi stres dan keraguan dalam menghadapi suatu tugas baru.

(3)    Kita semua mengalami kesulitan belajar selama kita telah belajar untuk tidak bergerak.

Gerakan Brain Gym yang sederhana, aman, alamiah dan murah merupakan alternatif menghadapi ketegangan dan tantangan pada diri anak khususnya mengalami kesulitan belajar di sekolah. Gerakan Brain Gym adalah gerakan saling silang dimana anggota tubuh sebelah kanan menyentuh tubuh sebelah kiri. Atau anak melakukan gerakan tangan yang saling menyilang bergantian antara tangan kanan dan kiri. Belahan otak kanan mengatur Anggota tubuh kiri dan sebaliknya. Bila kedua belahan otak dapat sama kuat dan terintegrasi satu sama. Fungsi otak menjadi optimal yaitu kedua belahan bekerja sama dalam proses belajar.

Referensi:

  1. Sidiarto, Lily Djokosetio (2007) Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar Pada Anak. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

Majalah Toddler Vol. 4/ 2006


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: